“Perang Untek” Dari Komunitas Seni Jong Gembyong, Petang Tampil Memukau di PKB Ke-47

0
343

DENPASAR, FAJARBADUNG.COM – Duta Badung dari Komunitas Seni Jong Gembyong, Desa Adat Pangsan, Kecamatan Petang tampil memukau pada Wimbakara atau Lomba Balaganjur Remaja serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, di Panggung Terbuka Ardha Candra Art Center Denpasar, Kamis malam (26/6/2025). Atraksi baleganjur remaja duta Kabupaten Badung tersebut bersamaan dengan duta dari Kota Denpasar, Tabanan, dan Buleleng.

Hadir pada acara tersebut Kadis Kebudayaan Badung I Gde Eka Sudarwitha bersama pimpinan OPD di Pemkab Badung, Sekda Kota Denpasar IB Alit Wiradana bersama pimpinan OPD di Pemkot Denpasar, pejabat dari Pemkab Tabanan, serta pejabat dari Pemkab Buleleng. Selain pejabat, baleganjur remaja tersebut menyedot lautan penonton yang berjumlah hingga puluhan ribu orang.

Balaganjur remaja duta Kabupaten Badung bertindak selaku komposer yakni I Putu Agus Mertayasa, S.Sn, koreografer I Wayan Yosindra Kusuma, S.Sn. dan Bagus Restu Waisnawa, S.Sn. Bertindak selaku konseptor I Gusti Ngurah Alit Supariawan, S.Sn, M.Sn, pembina I Wayan Desta Pratama S.Sn, I Gusti Ngurah Gede Dharma Widnyana, S.Sn, dan I Putu Sopyarta, S.Sn. Selaku penanggung jawab yakni Pemerintah Desa Pangsan, Dinas kebudayaan Kabupaten Badung, Listibiya Kabupaten Badung, dan Bupati Badung.

Berdasarkan sinopsis yang dibacakan sebelum pentas, Perang Untek merupakan sebuah warisan budaya tak benda yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Kiadan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Tradisi ini digelar setiap Purnama Sasih Kepitu sebagai sebuah prosesi spiritual untuk memohon keselamatan bagi masyarakat dan seluruh makhluk hidup, serta sebagai ungkapan rasa syukur kepada alam semesta atas anugerah kesuburan dan kemakmuran. Makna sakral ini sejalan dengan tema besar Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun ini, yaitu Jagat Kerthi Lokahita Samudaya (Harmoni Semesta Raya).

See also  Ketua DPRD Badung Terima Audensi Pengurus Provinsi Purna Paskibraka Indonesia Bali

Struktur musikal dalam karya ini dirancang berdasarkan ragam bentuk dan pola hasil olah kreatif yang menyatu dengan elemen koreografi. Keduanya dikemas secara kontekstual, mengacu pada teks dan makna ritual Perang Untek. Keunikan utama dari prosesi ini adalah penggunaan Tumpeng sebanyak 555 dan Untek/Penek sebanyak 777, dengan warna dominan putih dan kuning yang merepresentasikan konsep arah kangin-kauh (timur-barat).

Angka-angka simbolik tersebut menjadi inspirasi dasar dalam penggarapan musikal, khususnya dalam pola permainan ceng-cengreongponggang dan hitungan gong. Unsur ini tidak hanya memberikan kekuatan ritmis, tetapi juga menjadi elemen atraktif baik secara musikal maupun koreografis untuk memperkuat penyampaian tema dan makna dari karya Balaganjur ini.***

(Visited 6 times, 1 visits today)