
SANUR, Fajarbadung.com – Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) yang ke 12 kembali digelar di Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, UVJF 2025. Festival yang berlangsung 1-2 Agustus tersebut turut dimeriahkan oleh sederet musisi ternama internasional dan nasional
Adapun deretan musisi diantaranya Makoto Kuriya Trio (Jepang), ROUGE (Prancis), Jazz Steps (Vietnam), dan Bojan Cvetković Quartet (Serbia). Mereka akan berbagi panggung dengan talenta lokal seperti Balawan Trio feat. Jiyestha, Astrid Sulaiman Quartet, Dizzy & Wicked, Jazz Traveller, hingga Smokey Chamber Trio.
UVJF tahun ini juga menghadirkan East West European Jazz Orchestra (Jerman-Ceko-Serbia) dan SILK (Jerman), menjanjikan aransemen funk-jazz dan big band yang eksplosif. Dari Rusia, New Centropezn Jazz Quartet akan menyuguhkan kombinasi jazz klasik dan soul yang kuat.
General Manager Sthala Ubud Bali, Lasta Arimbawa, menyampaikan bahwa lokasi press conference tahun ini dipilih secara strategis.
“Tahun ketiga pelaksanaan UVJF di Sthala akan semakin baik. Kami memilih Teroemboe sebagai lokasi press confrence karena aksesibilitasnya yang mudah, serta karena Teroemboe merupakan bagian dari keluarga besar Sthala. Dengan demikian, kualitas makanan dan pelayanan tentu kami jaga setara standar internasional,” ujarnya.
Yuri Mahatma, selaku co founder UVJF menyampaikan, Sebagai salah satu festival jazz yang konsisten menjaga idealisme musikal, UVJF terus memberikan ruang bagi musisi lintas generasi.
“Tahun 2025 menghadirkan tantangan tersendiri, terutama karena melibatkan musisi dari berbagai negara. Namun komitmen kami tetap sama: memberi ruang bagi talenta-talenta baru, khususnya dari Indonesia. Salah satunya adalah Mahanada, musisi muda berbakat yang baru berusia 15 tahun. Ada juga Gayatri, dan musisi senior kami Mas Boggie Prasetyo dari Jazz Traveler.” tutur Yuri
Komitmen UVJF terhadap musik jazz mendapat apresiasi dari para musisi yang terlibat. Boggie Prasetyo dari Jazz Traveler menegaskan
“Sejak 2014 saya sudah tampil di UVJF. Festival ini adalah salah satu dari sedikit festival yang masih memegang komitmen idealis: tetap setia pada jazz, walaupun genre ini sering dianggap sebagai ‘musik minoritas’. Konsistensi itulah yang membuat saya bangga menjadi bagian dari UVJF.” ujar Boggie Prasetyo
Sementara itu, Gayatri, vokalis jazz yang baru pertama kali tampil di UVJF, mengungkapkan kekagumannya terhadap karakter festival ini.
“Ini adalah kali pertama saya tampil di UVJF. Di tengah dinamika jazz di Indonesia, UVJF tampil beda dengan menyajikan 100% jazz di panggung-panggungnya. Saya sangat menghargai komitmen ini.” tutur Gayatri
Mahanada, musisi muda yang akan naik panggung tahun ini, mengaku merasa terhormat. “Saya akan membawakan beberapa lagu dari album saya dengan aransemen khusus. Bisa tampil di UVJF adalah sebuah kehormatan bagi saya.” kata Mahanada
Tahun ini, UVJF tidak hanya berbicara tentang musik, tetapi juga lingkungan. Klick, arsitek sekaligus desainer konsep festival menjelaskan
“UVJF tahun ini mengusung tema Langit & Bumi, yang kami terjemahkan dalam konsep ‘Nyegara Gunung’. Isu utama yang kami angkat adalah soal kualitas udara dan pengelolaan sampah. Kami tidak lagi menggunakan gelas plastik maupun gelas kertas. UVJF menggunakan gelas khusus yang bisa digunakan ulang oleh pengunjung sepanjang festival. Kami ingin mengajak publik untuk menyadari pentingnya menjaga ruang udara kita, baik secara ekologis maupun kultural.” jelas klick
Tata ruang festival kali ini difokuskan pada dua panggung utama: Stage Giri (langit/udara) dan Stage Subak (bumi/tanah). Elemen visual juga ditonjolkan melalui kolaborasi dengan komunitas layang-layang, Kite Community.
Salah satu arsitek lainnya, Dina, menambahkan, “Kami menerapkan sistem deposit cup. Pengunjung bisa menggunakan gelas khusus dengan deposit Rp10.000, yang bisa dikembalikan di akhir festival. Selain itu, tersedia fasilitas refill tumbler dengan sistem pay as you wish. Kami ingin festival ini tetap inklusif dan ramah lingkungan, karena jazz adalah musik yang rendah hati dan bisa dinikmati oleh siapa saja.”
Semangat kolektif dan kesetiaan pada visi komunitas menjadi napas UVJF sejak awal berdiri. Anom Darsana, Co-Founder UVJF, mengungkapkan perjuangan yang mereka jalani selama ini.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kami selama 12 tahun terakhir. Kami membangun festival ini bukan untuk mencari untung. Tidak ada satu pun dari kami yang hidup dari festival ini, tapi kami terus jalan, meski berdarah-darah sejak awal. Sampai hari ini, kami belum mendapat keuntungan apa pun, namun semangat kami tidak akan padam. Kami tetap bekerja bersama rekanan yang punya komitmen serupa. Sistem suara di Stage Giri akan ditangani oleh Sora System dari Solo mereka selalu mendukung festival yang lahir dari komunitas.” ujar Anom Darsana
Tahun ini, UVJF menargetkan jumlah pengunjung sekitar 3.400 orang, dengan proyeksi peningkatan 20 persen dibanding tahun lalu. Seluruh kamar di Hotel Sthala pun sudah terisi penuh selama periode festival berlangsung menjadi sinyal antusiasme publik terhadap festival jazz yang kini tak hanya menjadi perayaan musik, tetapi juga perayaan bumi dan langit.(tim)

















