Mengenal Tradisi Budaya Bali, Belasan Anak Berkebutuhan Khusus Ikuti Workshop Menulis Lontar

0
128
ayasan Mahima bersinergi dengan penyuluh bahasa Bali Provinsi Bali dalam Singaraja Literary Festival menggelar Workshop Menulis Lontar yang diikuti oleh 11 Anak Berkebutuhan Khusus di Aula Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Buleleng, Jumat (29/9). Foto : Wismaya

SINGARAJA, Fajarbadung.com – Mengenalkan tradisi dan kebudayaan di Bali khususnya menulis di dalam daun lontar, yayasan Mahima bersinergi dengan penyuluh bahasa Bali Provinsi Bali dalam Singaraja Literary Festival menggelar Workshop Menulis Lontar yang diikuti oleh 11 Anak Berkebutuhan Khusus di Aula Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Buleleng, Jumat (29/9).

Dalam kesempatan ini, Kepala Sekolah SLB Negeri 1 Buleleng, Made Winarsa menyambut baik atas dilaksanakannya Workshop menulis dalam Lontar yang digelar pertama kali di SLB Negeri 1 Buleleng dengan melibatkan anak tuna rungu bicara.

Kepsek Winarsa berharap adanya Workshop ini, anak berkebutuhan khusus yang ada di SLB Negeri 1 Buleleng akan terbiasa menulis aksara Bali di Lontar. “Kebetulan di sekolah kami dapat pelajaran Bahasa Bali yang menulis di kertas. Kami harap kegiatan ini terus berkelanjutan,” harapnya.

See also  Terapkan Protokol Kesehatan, Pengunjung Pasar Wajib Pakai Masker

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali, Putu Pertamayasa menjelaskan SLB Negeri 1 Buleleng yang menjadi sasaran workshop ini dikarenakan sering terlupakan di dalam kegiatan secara umum. “Mereka jarang tersentuh yang sifatnya spesifik terutama tentang tradisi dan kebudayaan Bali,” ucapnya.

Lebih lanjut, Pertamayasa mengatakan Workshop yang digelar sekarang ini tidak berhenti sampai disini saja, melainkan kedepannya penyuluh Bahasa Bali akan terus mendorong anak-anak yang mempunyai keinginan untuk belajar lebih.

Pihaknya mengungkapkan Workshop yang dilakukan di SLB Negeri 1 Buleleng menjadi tantangan baru dengan menyesuaikan menggunakan pola bahasa isyarat yang mudah dimengerti oleh anak berkebutuhan khusus.

Pertamayasa juga menyampaikan bahwasannya dalam waktu penulisannya di dalam lontar tergantung dengan panjang lontar dan teks yang ditulis. “Rata-rata dalam menulis untuk kalangan yang sering menulis mungkin satu jam bisa diselesaikan,” ujarnya.

See also  Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali 2020 Ditutup

Workshop ini dilaksanakan dengan harapan mengingat tradisi dan kekayaan di Bali terutama pada sastra yang merupakan warisan dari leluhur. Sehingga anak-anak dari generasi sekarang dan akan datang tetap mengenal untuk penulisan lontar.

Selain itu, Pertamayasa memberikan motivasi kepada genarasi sekarang bahwa lontar bisa menjadi salah satu nilai ekonomi seperti menjadi tukang tulis, membaca, penyalin, dan menggambar.*Wismaya

(Visited 1 times, 1 visits today)