Ketua PHRI Bangli: Jangan Ada Retribusi Lagi

0
491
PHRI BANGLI. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bangli, Dr. I Ketut Mardjana. Foto : Tim.

KINTAMANI, Fajarbadung.com – Bicara tentang pariwisata Bali tentu tidak terlepas dari Bangli yang memiliki obyek wisata alam yang sangat menarik yakni kawasan Kintamani dengan Gunung Batur dan Kaldera Danau Batur yang menawan. Konon jauh sebelum daerah lain terkenal Kintamani sudah menjadi obyek wisata yang paling diminati wisatawan sejak tahun 1900 silam. Untuk itu pembangunan pariwisata Bangli perlu dibangun dengan konsep dan perencanaan yang matang dengan melibatkan semua stake holder yang ada.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bangli, Dr. I Ketut Mardjana, menjelaskan pembangunan pariwisata Bangli kedepan harus menjadi prioritas  bupati-wakil bupati yang baru terpilih.

Menurutnya, “Bangli Era Baru” sebagaimana yang dijargonkan Pasangan Calon Bupati-Wakil Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta-Wayan Diar, sebagai peraih suara dominan harus dimulai dengan upaya menciptakan pariwisata Bangli yang “murah”.

See also  Bhakti Sosial dan Peduli Kasih, TNI-Polri Bersama Kecamatan Denbar Bagikan 1000 Bungkus Nasi

“Pemerintah harus menjadi regulator dan fasilitator mewujudkan pariwisata Bangli yang ‘murah’, sehingga meningkatkan kembali minat wisatawan ke Bangli,” katanya saat ditemui di Toya Devasya, Toyabungkah, Batur, Kintamani, belum lama ini.

Definisi murah yang dimaksud adalah pariwisata yang terjangkau bagi berbagai kalangan, namun tetap berkualitas. Tidak ada lagi retribusi “tak layak” yang selama ini sering mencoreng pariwisata Bangli. “Pemerintah punya andil memutus retribusi yang selama ini banyak dikeluhkan dan dianggap tak layak oleh masyarakat,” kritiknya.

Ia menilai, selama ini retribusi pariwisata Bangli sangat memberatkan pelancong. Biaya retribusi dinilai tidak sepadan dengan fasilitas yang didapat. “Bayangkan, orang berbekal Rp50 ribu, tapi sudah dipotong Rp25 ribu untuk retribusi tanpa mendapat fasilitas apa pun. Apa yang bisa mereka perbuat? Sehingga, banyak dari mereka yang akhirnya beralih ke tempat wisata lain, karena pariwisata kita ‘mahal’, meski objeknya sangat indah,” kata mantan Dirut PT Pos Indonesia ini.

See also  Perilaku Tak Terpuji Oknum Guru Ajak Siswi-nya "Threesome" Dengan Pacar

Fasilitas kepariwisataan juga diharap dapat digarap dengan serius ke depan. Fasilitas utama yang diharapkan ada yakni jalan, air bersih, listrik, dan teknologi digital.

Menurutnya, saat ini banyak objek wisata yang sangat potensial dikembangkan masih memiliki akses yang buruk, bahkan tidak ada akses kendaraan. Air bersih juga masih menjadi kendala yang sangat terasa, khususnya bagi kawasan di Kinatamani.

“Listrik juga, masih sering voltasenya turun mendadak. Termasuk teknologi digital. Jangankan layanan data, di beberapa tempat indah di Kintamani misalnya, sinyal telepon saja masih sangat susah,” katanya.

Ia menambahkan, jaringan teknologi juga akan berpeluang memecahkan persoalan pajak yang berpengaruh pada pendapatan daerah. Menurutnya, sudah saatnya teknologi pajak digital diterapkan, sehingga sistem penerimaan semakin akuntabel dan transparan.(red/tim)

(Visited 21 times, 1 visits today)