KSP Pastikan Pemerintah Tetap Antisipasi Dampak Konflik Rusia dan Ukraina Terhadap Ekonomi

0
420
Caption Foto:: Deputi III Kepala Staf Kepresidenan Panutan S. Sulendrakusuma

JAKARTA, Fajarbadung.com – Konflik Rusia dan Ukraina tidak berdampak langsung pada perekonomian Indonesia. Hal ini sejalan dengan minimnya hubungan dagang Indonesia dengan dua negara yang sedang berkonflik tersebut. Seperti penuturan Deputi III Kepala Staf Kepresidenan Panutan S. Sulendrakusuma. Menurut Panutan, relasi perdagangan dan investasi antara Indonesia dengan Rusia dan Ukraina, cukup rendah.

Dia memaparkan, neraca dagang dengan Rusia relatif kecil sebesar US$239,79 juta dan Investasi langsung senilai US$23,21 juta. Sementara dengan Ukraina, nilainya minus US$623,89 juta dan total investasi langsung hanya US$1,6 juta

Meski begitu, Panutan menilai, Indonesia tetap melakukan langkah-langkah antisipasi jika konflik Rusia dan Ukraina berkelanjutan. “Karena dampak yang besar akan terlihat dari biaya yang dikeluarkan dari pemenuhan impor BBM yang 40% kebutuhan masih mengandalkan impor,” ungkap Panutan di Jakarta, Rabu (23/3).

See also  Gelar Badung Education Fair Tahun 2022 di Green Schooll Bali, Pemerintah siap Dengan Kurikulum Merdeka

Panutan menjelaskan, kenaikan harga energi akan berpengaruh pada biaya logistik dan kenaikan harga beberapa komoditas impor seperti gandum, kedelai, jagung dan sapi. Hal itu tentu saja berpengaruh pada industri makanan, restoran dan pelaku katering.
“Ini berpotensi menyebabkan kenaikan laju inflasi,” kata Panutan.

Secara umum, Panutan berpendapat, konflik Rusia dan Ukraina bisa memberikan dampak besar berupa kenaikan harga secara global pada tiga sektor utama, di antaranya, energi, pertanian dan manufaktur.

Seperti diketahui, Rusia merupakan produsen minyak terbesar ketiga di dunia dan memenuhi 11% dari kebutuhan minyak global. Namun dari segi konsumsi mereka hanya 4%. Selain itu, Rusia juga produsen gas terbesar dan produsen batu bara ke enam terbesar di dunia.

See also  Jaga Ketahanan Pangan di Wilayah, Kodam IX/Udayana Gelar Sosialisasi Program Pembinaan Ketahanan Pangan

“Perang akan menyebabkan melambungnya harga minyak dunia, gas dan batu bara. Harga minyak untuk jenis Brent sudah mencapai US$101,68/barel,” kata Panutan menjelaskan.

Dari sisi pertanian, lanjut Panutan, Rusia bersama dengan Ukraina merupakan pemasok 29% kebutuhan gandum global, 17% pasokan jagung dan 76% minyak goreng dari jenis bunga matahari.

Adapun dari sisi industri manufaktur, Rusia memasok 35% kebutuhan paladium, 10% platinum, 6% aluminium, 5% nikel dan biji baja 4%. “Kenaikan harga metal tersebut akan menyebabkan kenaikan biaya bahan baku terutama untuk industri manufaktur otomotif dan elektronik,” tutur Panutan.

Selain itu akan terjadi kenaikan harga emas disebabkan emas menjadi alat tukar paling aman selama terjadi perang dan merupakan medium penyimpanan aset konvensional.*

See also  Cek Pelaksanaan Vaksinasi, Ini yang Dilakukan Kapolres Badung

Editor|Chris

(Visited 9 times, 1 visits today)