MANGPURA, Fajarbadung.com – Pengamat Pariwisata Internasional Tantowi Yahya secara lugas menyampaikan, Bali perlu memiliki otonomi khusus untuk mengatur dirinya menuju pariwisata Bali yang berkualitas. Hal ini disampaikan Tantowi Yahya dalam acara Diskusi Pariwisata Berkualitas yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Badung di Puspem Badung, Selasa (20/5/2025).
Dalam sistem pengelolaan daerah, dikenal dengan daerah biasa dan daerah istimewa. “Bali ini punya kekhususan, yaitu sumber daya pariwisata. Bali tidak ada sumber daya lain selain pariwisata. Ekonomi Bali tergantung pada pariwisata. Karena ini sumber utama kehidupan masyarakat, maka pengaturan diserahkan ke provinsi di Bali.
Hanya bidang-bidang tertentu diatur oleh pusat seperti hukum, Imigrasi, infrastruktur publik dan seterusnya. Sisanya serahkan saja ke Bali untuk mengurus dirinya sendiri,” ujarnya.
Otonomi khusus Bali menjadi fondasi bagi Bali untuk mengatur dirinya sendiri dalam bidang pariwisata khususnya pariwisata budaya. Kenapa Bali diberi kewenangan penuh, karena Bali yang paling tahu tentang potensi dirinya sendiri. Bila ada otonomi khusus, maka Bali sudah tahu apa yang harus dilakukan.
“Misalnya Bali Utara yang akan membangun bandara, ini semua tentang tidak bisa ditentukan oleh Bali sendiri. Masih bergantung pada pusat. Akibatnya, pariwisata yang ada saat ini tidak ada keseimbangan antara Utara dan Selatan,” ujarnya.
Tanpa otonomi khusus di bidang pariwisata, maka Bali sulit bergerak menuju pariwisata berkualitas.

Saat ini, trend pariwisata dunia adalah pariwisata berkualitas dan ini sudah dikembangkan di banyak negara. Ada tiga parameter pariwisata berkualitas yakni sebelum perjalanan, saat atau sedang dalam perjalanan dan setelah perjalanan.
Sebelum perjalanan misalnya aksebilitas mudah seperti jalan raya, bandara, transportasi publik, konektivitas digital seterusnya. Sebab, data perjalanan wisata dunia menunjukkan, 73% turis asing selalu mengandalkan platform digital untuk merencanakan perjalanan.
Selama perjalanan atau saat turis ada di suatu negara, dia wajib menikmati fasilitas yang lengkap dan nyaman, keamanan dan kenyamanan terjamin, layanan berkesan dan ramah. Data menunjukkan, 68% turis di dunia menyatakan jika hospitality dan kenyamanan jadi faktor penentu menuju pariwisata berkualitas.
Setelah perjalanan, turis harus meninggalkan kesan positif sehingga dia bisa terkenang, membagikan pengalaman ke orang lain, merekomendasikan ke orang lain dan bahkan muncul loyalitas terhadap destinasi wisata sehingga dia akan kembali ke Bali.(F01)


















