Catatan Paradoks: Wayan Suyadnya
Hari ini, bertepatan dengan purnamaning Sasih Karo. Menurut penanggalan Bali, sasih Karo penanda kemarau telah tiba. Musim gado kata petani. Namun kali ini anomali. Kemarau hujan yang sering disebut sebagai kemarau basah.
Cerita ibu saya, Karo adalah sasih ngaroanang, penanda seken (sungguh-sungguh), yang baik akan keliatan baik, yang buruk pun demikian. Keliatan kulit dan laku aslinya. Selalu saja ada celah untuk mempertontonkan keasliannya.
Sampai pada purnamaning sasih Karo ini, di Bali makin diselimuti paradoks, kita menghadapi kenyataan yang nyaris tak terbantahkan: bumi kita lapar, bumi kita haus — tapi kita justru menutup mulut dan menyumbat pori-porinya.
Solusi yang tampak sederhana namun mulia ialah tebe dan biopori. Namun, masih banyak yang saling berbantahan, katanya peduli, tapi tidak peduli.
Padahal lewat tebe, sampah organik tak lagi jadi kutukan, tapi santapan lezat bagi tanah. Lewat biopori, air hujan tak lagi terbuang, tapi meresap lembut menyentuh rahim ibu bumi.
Air hujan, kata orang bijak, adalah cinta Bapa Akasa kepada Ibu Pertiwi. Maka cinta itu seharusnya turun dari langit, lalu masuk ke dalam tanah, menyatu dan menghidupi.
Tapi mari lihat realitas kini — cinta itu tak sampai. Jalanan diaspal, halaman disemen, pekarangan dibeton, bahkan taman pun ditutup batu sikat demi estetika semu.
Cinta dari langit itu mendobrak, tak diberi jalan masuk. Maka banjir pun datang sebagai kemarahan sekaligus tangis cinta yang tertolak.
Parit-parit berlomba membuang air ke laut. Bumi hanya bisa menunggu, haus dan terluka.
Dan kita? Terus menyedot air bawah tanah, menggali lebih dalam, tak peduli isi perut bumi makin kosong.
Pulau Bali, pulau kecil nan padat, dihuni lebih dari 4,4 juta jiwa ditambah jutaan wisatawan yang datang dan pergi, berpesta pora air — mandi, minum, mencuci, menyiram.
Kebutuhan minimal air per orang: 2 liter untuk minum + 20–50 liter untuk mandi.
Dikalikan jutaan jiwa, berapa banyak air yang harus disediakan oleh bumi Bali yang mungil ini?
Sudahkah kita menanyakan pada para ahli: berapa daya dukung air Pulau Dewata saat ini? Atau kita pura-pura lupa, sibuk membangun vila, hotel, kolam, waterpark, dan segalanya yang menutup tanah dan menyumbat pori-pori bumi?
Lihatlah Pecatu. Dulu gersang, kini padat. Airnya dari mana? Belum terdengar PDAM mengolah air sungai atau air laut. Yang ada hanyalah penyerobotan jatah air petani, mengalirkan air dari sumber-sumber di pegunungan lewat pipa grafitasi.
Makin tinggi bangunan, makin dalam sumur, makin haus tanah yang kita injak.
Di tengah hingar-bingar tentang penutupan TPA Suwung untuk sampah organik, yang dibicarakan hanyalah urusan logistik sampah — siapa buang, siapa angkut, siapa kelola.
Tak banyak yang melihat peluang spiritual dan ekologis di balik hiruk-pikuk itu: momen untuk mengembalikan cinta bapa pada ibu, mengembalikan kesadaran untuk bersatu kembali dengan tanah — bukan sekadar menanam pohon, tapi juga memberi makan lewat tebe, memberi minum lewat biopori.
Kini tebe bisa dibuat indah, rapi di sudut taman, estetis di halaman rumah. Tak mengganggu mata, tak mengusik hidung.
Biopori pun adalah lubang kecil penuh cinta — tak terlihat tapi sangat terasa. Seperti pori-pori di kulit ibu, mereka adalah jalan air masuk, pelukan hujan kepada tanah.
Tidakkah kita malu, sebagai orang Bali yang diwarisi ajaran Tri Hita Karana — harmoni dengan Tuhan, manusia, dan alam — tapi justru menyumbat jalan harmoni itu sendiri?
Jika tanah kita kotori, tetangga akan terganggu. Jika lingkungan tak kita hormati, sesama manusia akan saling menyalahkan. Jika hubungan dengan manusia dan alam sudah rusak, dengan Tuhan kita menjalin hubungan lewat apa?
Di tengah ramainya debat soal TPA Suwung, kita kehilangan makna terdalam: mengelola sampah bukan hanya urusan teknis, tapi spiritual.
Mengelola sampah bukan cuma soal kebersihan, tapi soal cinta. Maka kata membuang seharus diganti mengelola.
Jika cinta Bapa Akasa dihalangi beton, dan Ibu Pertiwi dibiarkan kering serta kelaparan — kita sejatinya sedang menghianati kasih yang paling agung.
Seharusnya jadikan momen ini sebagai titik balik. Bukan saling hujat, saling menyalahkan atau merasa benar sendiri.
Soal sampah tak perlu tunggu proyek miliaran atau seminar bertema besar. Cukup dengan satu tebe di halaman. Beberapa biopori di pekarangan. Karena dengan itu, kita telah memulihkan jalan cinta yang terhalang beton.
Semoga bumi kembali bisa makan. Semoga bumi kembali bisa minum. Dan semoga kita kembali bisa mencintai — dalam diam, dalam tindakan sederhana, tapi penuh makna.
Denpasar, 8 Agustus 2025


















