Kontribusi DTW hanya Rp 1 M Setahun untuk Semua Subak, Petani dan Subak Jatiluwih Menjerit

0
243
FOTO : Dok - Fajarbadung.

TABANAN, Fajarbadung.com – Tanpa subak dan sawah terasering, maka Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih bakal mati. Wisatawan lokal, domestik, dan mancanegara rela datang ke Jatiluwih demi menikmati keindahan subak dan sawah terasering yang telah menjadi Warisan Budaya Dunia dari UNESCO. Untuk itu, DTW harusnya memberikan perhatian lebih kepada semua pemilik sawah dan pengelola subak di Jatiluwih.

Petani di DTW Jatiluwih Kecamatan Penebel Tabanan Bali mulai menjerit. Kontribusi DTW untuk para petani dan pengelola subak tak sebanding dengan pengeluaran dan pengorbanan mereka.

DTW hanya berkontribusi senilai Rp 1 Miliar setiap tahun untuk seluruh sawah dan subak di Jatiluwih. Padahal, perjanjiannya sebesar 26 persen dari pemasukan tiket/karcis DTW harus diberikan kepada semua petani dan pemeliharaan subak di kawasan.

“Dengan keberadaan subak Jatiluwih sebagai objek pariwisata, memang kita mendapat bagian dari karcis (tiket) sebesar 26 persen,” kata Ketua Pekaseh Subak Jatiluwih I Wayan Mustra, Kamis 21 Agustus 2025.

See also  Peduli Sesama, The Sak Bagikan Ratusan Paket Sembako Kepada Wanita Pengrajut Tas Tangan

Namun, Wayan Mustra menjelaskan, asumsinya apa yang dikeluarkan oleh petani dan subak Jatiluwih sebagai tujuan wisata tak sebanding dengan kontribusi dari DTW.

“Kalau kita rinci biaya-biaya yang dikeluarkan oleh para petani dalam satu musim tanam itu, kurang lebih Rp 4 Miliar untuk semua sawah dan subak seluruh Jatiluwih. Itu meliputi biaya bibit, biaya pupuk, biaya olah lahan, biaya panen, termasuk biaya perawatan,” tegasnya.

Jika dihitung berbanding dengan kontribusi Rp 1 M setiap tahun dari DTW Jatiluwih, maka kerugian masih dialami para petani dan pengelola subak.

“Cuma kita mendapat kompensasi baru 1/4 dari Rp 4 miliar, sekitar Rp 1 miliar dalam setahun,” ujar Wayan Mustra.

Mustra mengatakan sesungguhnya kontribusi ini tak adil bagi petani dan pengelola subak. Sawah dan subak yang menjadi objek pariwisata seharusnya mendapat perhatian lebih.

“Sebenarnya kurang adil untuk kita di subak Jatiluwih, yang mana mereka kan sebagai objek tentunya mereka harus dirawat, dipelihara. Memang sudah ada perhatian, tapi belum cukup,” katanya.

See also  Doa Bersama Keluarga Besar Polres Tabanan Dalam Rangka Mengantisipasi Berkembangnya Virus Corona

Wayan Mustra meminta agar DTW Jatiluwih dan Subak harus saling mendukung demi keberlangsungan pariwisata Jatiluwih Tabanan. Ia meminta agar kontribusi DTW sebesar 50 persen kepada petani dan subak.

“Minimal lah fifty-fifty (50:50) untuk kita sebagai perhatian lebih.
Karena tanpa subak, wisata Jatiluwih tidak ada.

Marilah kita saling dukung. Kita mendukung pariwisata Jatiluwih, pariwisata Jatiluwih juga mendukung subak di dalam pemeliharaan. Berikan kami kontribusi yang lebih lah untuk perhatian lebih terhadap subak,” katanya.

Untuk diketahui, berdasarkan data tahun 2024 bulan Mei dan Juli, pemasukan DTW Jatiluwih dari tiket masuk wisatawan melonjak signifikan. Kunjungan perhari mencapai 1500 hingga 1800 orang yang didominasi wisatawan mancanegara.

Sementara harga tiket masuk DTW Jatiluwih tahun 2024,Wisatawan Domestik Dewasa: Rp 15.000, Domestik Anak-anak: Rp 5.000.
Wisatawan Asing Dewasa: Rp 50.000, wisman Anak-anak: Rp 40.000.

Kini, terhitung mulai April tahun 2025, harga tiket masuk DTW telah mengalami kenaikan signifikan. Wisatawan Domestik Dewasa harus membayar Rp 25.000 per orang, Domestik Anak Rp 15.000, Wisatawan Asing Dewasa Rp 75.000 dan Asing Anak: Rp 50.000. Tiket lokal Bali Rp 15 ribu dan anak anak Rp 5 ribu.

See also  Narkoba Senilai Rp 10 Miliar dari Peru Diselundupkan ke Bali, Barang Haram Dimasukkan dalam Bra dan Sex Toys Dimasukan dalam Kelamin

Mengamati data tahun 2024 dan 2025 diatas, rasanya miris jika per tahun seluruh petani dan pengelola subak di seluruh area DTW jatiluwih hanya menerima kontribusi dari DTW sebesar Rp 1 Miliar.***

(Visited 8 times, 1 visits today)