BALI – Matahari perlahan tenggelam di ufuk laut Bali ketika cahaya lilin mulai menyala satu per satu di Sunset Mandala, Sira Village, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.
Para pemimpin dunia, tokoh spiritual, akademisi, generasi muda, dan peserta yang terhubung secara digital dari berbagai penjuru dunia berdiri dalam keheningan. Mereka tidak sedang mengikuti forum teknologi, melainkan mengambil jeda untuk merenungkan satu pertanyaan sederhana sekaligus mendasar: bagaimana menjaga perdamaian ketika dunia bergerak semakin cepat akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI)?
Suasana itu menjadi bagian dari Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony 2026, yang digelar Jumat (5/9/2026) sebagai puncak rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026.
Mengusung tema “Holding Space for Peace: Peace Within, Peace Among Us, Peace with All Life”, upacara tersebut mempertemukan delegasi dari lebih dari 70 negara dalam sebuah ruang refleksi mengenai perdamaian, martabat manusia, keberagaman, dan hubungan manusia dengan alam.
Di tengah perdebatan mengenai AI dan masa depan manusia, Bali menawarkan bahasa yang berbeda: keheningan, spiritualitas, seni, dan kearifan lokal.
Sebelum mencapai puncak refleksi di Sunset Mandala, Bali Harmony Encounter Week telah menjadi ruang pertemuan berbagai pemikiran mengenai masa depan teknologi.
Bali Harmony Dialogue yang berlangsung pada 3 September di United In Diversity (UID) Bali Campus mempertemukan pemerintah, organisasi internasional, perusahaan teknologi, akademisi, sektor swasta, masyarakat sipil, dan komunitas lokal untuk membicarakan kesenjangan AI global.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie, dalam kuliah umum “Intelligence: Natural and Artificial”, menekankan pentingnya membangun kapasitas negara berkembang agar tidak berhenti sebagai pengguna teknologi, tetapi mampu menjadi bagian dari perumusan tata kelola dan riset AI.
Pembahasan kemudian berlanjut melalui Consultative Dialogue on Youth serta World Encounter Summit Bali: XI International Scholas Chairs Congress pada 4–6 September.
Kongres yang mengangkat tema “Artificial Intelligence and Human Meaning” tersebut mempertemukan delegasi dari lebih dari 140 universitas di 70 negara.
Pesannya jelas: kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan untuk memahami makna, membangun empati, menjaga etika, dan hidup berdampingan.
Pesan itu kemudian diterjemahkan melalui simbol yang sederhana pada malam refleksi: sebuah lilin.
Saat senja turun, para peserta di Sira Village dan mereka yang mengikuti acara secara digital dari lima benua menyalakan lilin sambil mendengarkan “Lilin-Lilin Kecil”, lagu karya almarhum James F. Sundah.
Lagu yang diciptakan hampir lima dekade lalu itu diperdengarkan di hadapan Lia Suntoso, istri James F. Sundah, yang mengikuti prosesi secara daring.
Cahaya lilin yang menyebar di tengah suasana senja menjadi gambaran tentang kekuatan harapan yang lahir dari tindakan-tindakan kecil.
Dari cahaya yang satu kemudian menjadi puluhan, ratusan, hingga membentuk mozaik yang menerangi lokasi acara.
Bagi penyelenggara, momen tersebut menjadi simbol persatuan lintas agama dan budaya dalam semangat “Bali untuk Dunia.”
Suasana semakin kuat dengan doa lintas agama dan pertunjukan seni dari kelompok tari Bumi Bajra, termasuk Barong dari Puri Ubud.
Hadir menyaksikan pertunjukan tersebut Raja Puri Ubud Tjokorda Gde Putra Sukawati bersama keluarga kerajaan dan pemangku adat, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu, Sekretaris Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci Pdt. Mgr. Indunil Janakaratne Kodithuwakku Kankanamalage, Pastor Marcin Schmidt, Maria Paz dari Scholas Occurrentes, serta para pemimpin muda Young Changemakers Programme dari berbagai benua.
Alunan instrumen tradisional Bali, gerak tari, dan ritme sakral membawa suasana menuju keheningan bersama yang mengingatkan pada spirit Nyepi.
Tri Hita Karana untuk Dunia
Di sinilah filosofi Bali menemukan konteks globalnya.
Tri Hita Karana mengajarkan keselarasan antara manusia dengan Sang Pencipta melalui Parahyangan, hubungan harmonis antarmanusia melalui Pawongan, serta hubungan manusia dengan alam melalui Palemahan.
Filosofi tersebut dipertemukan dengan konsep culture of encounter yang dikembangkan Scholas Occurrentes, organisasi yang didirikan oleh Paus Fransiskus.
Keduanya bertemu dalam satu gagasan: perbedaan tidak harus menjadi sumber perpecahan, tetapi dapat menjadi ruang untuk saling memahami.
Pesan tersebut juga disimbolkan melalui pengibaran Bendera Perdamaian SDG 16, Merpati Perdamaian, serta narasi Sutasoma yang menggemakan semangat persatuan dalam keberagaman.
Wakil Presiden UID Foundation Suyoto mengatakan dunia membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berbicara mengenai perdamaian sebagai tujuan, tetapi juga sebagai hubungan yang harus dirawat setiap hari.
“Kedamaian bukanlah sekadar tujuan akhir yang dicapai melalui teori, melainkan sebuah hubungan yang harus kita rawat secara aktif setiap hari,” ujar Suyoto.
Menurut dia, Bhinneka Tunggal Ika dan Tri Hita Karana dapat menjadi sumber inspirasi dalam menghadapi konflik global, kerusakan ekologis, dan polarisasi sosial.
Sementara Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. M. Arskal Salim, GP., M.Ag., yang hadir mewakili Menteri Agama Prof. Dr. K.H. Nazaruddin Umar, mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kontribusi kecil.
“Transformasi besar tidak lahir dari satu cahaya raksasa, melainkan dari lilin-lilin kecil yang kita bawa bersama.”
Ia mengajak generasi muda dan masyarakat lintas agama menjaga “cahaya” tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Kedamaian dalam diri, kedamaian antarsesama, kedamaian dengan seluruh kehidupan,” kata Arskal, “bukan sekadar slogan, melainkan seruan aksi nyata yang dimulai dari kita sendiri hari ini.”
Pesan tersebut menjadi penutup refleksi Bali Harmony Encounter Week 2026: bahwa di tengah dunia yang semakin dipengaruhi AI, otomatisasi, dan perubahan teknologi, manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk menentukan arah peradabannya sendiri.
Dari Bali, pesan itu disampaikan melalui bahasa yang sederhana—menyalakan cahaya, merawat hubungan, menghormati alam, dan menjaga perdamaian.
Sebuah cahaya kecil mungkin tidak cukup untuk menerangi seluruh dunia. Namun ketika dinyalakan bersama, cahaya-cahaya itu dapat menunjukkan arah.
Bali Harmony Encounter Week 2026 mendapat dukungan dari sejumlah mitra korporasi dan institusi, antara lain Astra, Pertamina, Freeport Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Danantara, Sinar Mas, PT Gajah Tunggal Tbk., dan KEK Kura Kura Bali. Dukungan tersebut diarahkan pada semangat membangun keseimbangan antara inovasi teknologi, keadilan sosial, dan pelestarian budaya.***


















