Duta Badung, Sanggar Citta Usadhi Pukau Penonton di Utsawa Arja Klasik PKB Ke-47

0
330

DENPASAR, FAJARBADUNG.COM – Suguhan drama tari Arja Klasik dari Sanggar Citta Usadhi, Banjar Gunung Sari, Desa Mengwitani, Mengwi, Badung di panggung Kalangan Ayodya, Art Centre, Denpasar, Selasa (24/6) malam, sukses membuat ratusan penonton terkesima. Dalam pertunjukan yang merupakan rangkaian dari Pesta Kesenian Bali 2025 ini, Sanggar Citta Usadhi menampilkan cerita Sirnaning Dirada Sungsang.

Cerita ini digarap atau ditulis langsung oleh sang pemimpin sanggar yang juga guru besar ISI Denpasar, Prof. Dr. Desak Made Suarti Laksmi bersama suaminya I Nyoman Cakra. Naskah ini bercerita tentang tokoh Made Umbara yang berhasil memenangkan sayembara mengalahkan Raksasa Dorada Sungsang untuk merebut hati Rahaden Galuh.
Sebelumnya, Rahaden Galuh dijadikan tumbal oleh Ratu Pramiswari dari Keraton Kastila Manik Ratna untuk Raksasa Dirada Sungsang. Syukurnya Dirada Sungsang belum mau memangsa Rahaden Galuh dan bahkan meninggalkan makanan untuknya. Dalam kondisi itu, Galuh berdoa agar Tuhan mengurus malaikat penolong. Jika yang menolongnya adalah seorang wanita, dia akan dijadikan sebagai saudara teman hidupnya. Namun jika yang menolongnya adalah lelaki, dia akan bersedia untuk mengabdikan hidupnya berbakti untuknya.

See also  Kompol Utari Beri Pengarahan di depan Cyber Troops    

Di sisi lain, Made Umbara yang sudah menginjak dewasa disarankan untuk segera mencari pendamping hidup oleh gurunya bernama Ki Dukuh. Made Umbara lalu diminta sang guru untuk menyelamatkan Rahaden Galuh, putri mahkota Kerajaan Swarnakaradwipa dengan cara membunuh Raksasa Dirada Sungsang yang bermukim di Kawah Gohmaya Cambra di Gili Parang Gamping.

Pertarungan pun bergolak dan akhirnya raksasa dapat dibunuh dengan menggunakan taring permata kalung Rahaden Galuh bernama Motiwirasadi menjungkalkan si Raksasa dan menemui ajalnya. Sang Raksasa adalah penjelmaan kutukan seorang Gandarwa harus ditebus di dunia pada dan dia berterima kasih sudah menyupat dirinya untuk kembali ke kahyangan.

Dalam perjanan kembali ke Swarnakaradwipa, dia dihadang oleh Prabu Gilingwesi. Pertempuran pun tidak dapat dielakkan. Prabu Gilingwesi percaya pada keyakinan dan penglihatannya bahwa musuhnya sudah mati ditusuk pusaka Liwungpitana pusaka milik Swarnakaradwipa. Dengan pongahnya punggalan Raksasa dirampas dan sang putri diboyong sebagai tanda bukti kemenangannya.

See also  Pengolahan Saluran Limbah Klinik Melanggar Kesucian Pura, DPRD Badung Minta SatPol PP Hentikan Operasional Klinik

Di hadapan sang Prameswari, sang prabu dengan bangga mempersembahkan bukti kesuksesannya. Rahaden Galuh Diah Ratna Juita membeberkan bahwa pembunuhnya bukan sang prabu. Dia merampas dari seorang pangembara dan bila diperkenankan dilakukan perang tanding secara terbuka yang disaksikan oleh rakyat.

Di luar dugaan Prabu Gilingwesi muncullah bukti bahwa dia bukanlah pembunuh raksasa yang sesungguhnya. Tidak terima sang raja dipermalukan, perang tanding pun terjadi di Kastila Manik Ratna pusat pemerintahan Kerajaan Swarnakaradwipa. Akhirnya Sang Prabu Gilingwesi Rahaden Warak Worosakara bertekuk lutut di bawah kekuatan Made Umbara yang sesungguhnya adalah Rahaden Anindita Kirtana trah Prabu Kenakadwipa.

Prof. Dr. Desak Made Suarti Laksmi selaku penulis naskah mengatakan, banyak pesan yang terkandung dalam kisah ini. Mulai dari pesan tentang kejujuran, tentang cinta dan kedudukan hingga tentang sikap patriotisme atau kepahlawanan. ”Pesan yang disampaikan bahwa berapa kejujuran sangat penting dalam kehidupan. Berawal dari kejujuran maka masa depan bangsa ini akan mencapai kemuliaan. Dewasa ini kan sulit sekali mencari mana benar. Semua mengaku benar, semua mengaku jujur. Kita tak tahu yang mana sebenarnya yang jujur. Pesannya semua harus waspada,” katanya sebelum pentas.

See also  Dewan Badung Minta APBD Perubahan Dirancang Sesuai Kebutuhan

Lebih jauh, persiapan pementasan tersebut dilakukan dari jauh-jauh hari. Pihaknya mempersiapkan mulai dari latihan dan perangkat lainnya sejak awal bulan September 2024 lalu. ”Kami latihan sejak awal September. Kurang lebih 30 seniman yang terlibat,” ujar wanita kelahiran Banjar Kawan Manggis, Karangasem, 28 Maret 1959 ini.

Menariknya seniman yang terlibat, khususnya penari juga didominasi dari kalangan anak muda. ”Seniman yang dilibatkan adalah seniman muda, bahkan ada juga yang baru tamat SD. Ini karena banyak pemula, makanya kami latihan sejak awal September tahun lalu,” pungkasnya.***

(Visited 5 times, 1 visits today)