DENPASAR, Fajarbadung.com – PDIP Bali menggelar lomba desain, mewarnai, dan menenun kain Endek Bali. Perlombaan tersebut digelar dalam rangka merayakan hari ulang tahun PDIP dan menyambut Bulan Bung Karno. Koordinator acara Ketut Suryadi menjelaskan, peserta lomba mencapai 102 orang dari seluruh Bali dengan peserta terbanyak berasal dari Kota Denpasar sebanyak 25 orang. Penilaian peserta lomba sudah dimulai sejak awal Mei 2021.
Ada pun tema yang diangkat adalah “Kreatifitas Mendesain Endek Bali dengan Teknik Digital dan Harmoni Pewarnaan”. Lomba digelar dari tingkat kabupaten. Kemudian yang memperoleh juara pertama, kedua, ketiga di tingkat kabupaten dan kota akan diikutkan untuk lomba di tingkat provinsi. Penutupan lomba ditandai dengan workshop tentang desain kreatif Endek Bali. “Lomba desain ini merupakan salah satu lomba dalam rangka HUT PDIP dan menyambut bulan Bung Karno. Sekaligus juga merupakan tindak lanjut dari visi misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dari Gubernur Bali I Wayan Koster,” ujarnya di Denpasar, Selasa (6/6/2021).
Lomba ini diikuti oleh kaum muda Bali. Untuk tingkat DPC sudah dimulai sejak Maret proses rapat dan sebagainya. Pada 5 April digelar teknikal meeting tentang kriteria penilaian dan sebagainya. Ada banyak kriteria penilaian namun kriterian pokok adalah bagaimana mendesain, mengikat dan menenun kain Endek Bali. Sebab ada banyak yang mendesain, tetapi tidak bisa mengikat dan menenun.
Ada banyak desainer yang hanya mampu mendesain, tetapi tidak mampu mengaplikasikannya saat mengikat dan menenunnya. Inilah yang menjadi aspek yang harus diperdalam oleh generasi muda Bali. Banyak kain Endek Bali yang desainnya bagus, tetapi saat aplikasi tidak berkualitas. Desain ini harus dirangkaikan dengan teknik digital dan pewarnaan yang harmoni.
Sementara itu Nyonya Putri Suastini Koster selaku kader PDIP memberikan apresiasi kepada para peserta lomba yang kebanyakan dari kalangan muda. “Saya dilaporkan bahwa para peserta lomba anak muda semua. Memang harus yang muda-muda. Sebab kami yang sudah Lingsir (tua) hanya bisa mengajarkannya. Tetapi kalau anak muda Bali tidak mau belajar dari sekarang maka habislah kekayaan Bali. Siapa lagi yang bisa merawatnya, melestarikannya, kalau bukan anak muda saat ini,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa bila saat ini anak muda Bali tidak mau belajar mendesain, mengikat, mewarnai, menenun, maka suatu saat jangan kaget bila Endek Bali akan diproduksi di Jepara di Bandung dan sebagainya. Jadi namanya endek Bali tetapi dibuat di luar Bali.
Ia juga mengingatkan kepada para peserta untuk memperhatikan desain Endek Bali. Desain itu perlu memperhatikan filosofi adat dan budaya Bali. Begitu pula dengan proses pewarnaan. Warna dasar motif Bali itu merah, putih, hitam. Sementara warna lainnya hanya tambahan. Dan yang terakhir adalah kualitas mengikat dan menenunnya. Ini tidak bisa disepelekan karena itulah kualitas kain Endek Bali. “Kita sudah terbiasa menggunakan kain Bali yang berkualitas. Dan itu terlihat dari cara menenunnya. Dan generasi muda Bali harus belajar melestarikan Endek Bali,” ujarnya.(Christ/tim).


















