Jangan Buat Kebijakan Sentimental dengan Pendekatan Situasional

0
358
FOTO : Dok - Fajarbadung.

Oleh Emanuel Dewata Oja

Ada satu perspektif yang belum pernah terungkap dibalik ribut-ribut soal “kelakuan buruk” warga perantau asal Sumba (konon mayoritas Sumba Barat Daya) di Bali, yang kemudian membuat entitas NTT turut terseret ke dalam pusaran arus tuduhan berkelakuan buruk di Bali.
MARI KITA BONGKAR-BONGKAR…!!!
Ketika sebuah Desa di Karangasem membuat aturan tertulis, melarang warganya yang punya usaha kos kosan menerima warga NTT sewa kos di Desa tersebut, saya agak tersentak. Pikiran saya begitu terusik.

Memang secara samar-samar keputusan Desa di Karangasem tersebut, mudah dibaca sebagai sebuah TRAGEDI NASIONALISME yang berpotensi melumpuhkan perinsip menyama braya, yang begitu dimuliakan oleh karma Bali. Dan bagi masyarakat NTT, Menyama Braya adalah ALE RASA BETA RASA.

Buktinya, tak lama setelah keputusan Desa tersebut viral di media social, netizen mulai menghembuskan isu tidak sedap bahwa Bali mulai rasis terhadap pendatang, khususnya pendatang asal provinsi NTT yang sejatinya adalah saudara dan tetangga dekat provinsi Bali.

Namun benarkah itu sebuah tindakan rasisme? Saya TIDAK YAKIN. Mungkin lebih tepat disebut sebagai ekspresi keresahan sosial atau reaksi keras terhadap perbuatan-perbuatan onar yang kerap dilakukan oknum tertentu yang kebetulan berasal dari Sumba. Keresahan itu terus mengental jadi kebencian. Maka muncul frasa ejekan “NAS BERIT” (rambut keriting) untuk menyebut warga perantau NTT di Bali.

Hanya saja, spontan saya berpikir bahwa keputusan Desa tersebut terlalu sentimentil dan menggunakan pendekatan situasional yang tidak mempertimbangkan rasa keadilan bagi segenap warga NTT lain, yang sudah merantau ke Bali belasan tahun atau bahkan puluhan tahun.

Mari kita selami akar masalah ini dengan cara pandang yang mungkin tidak populer bagi sebahagian masyarakat di Bali.

See also  Colek Pamor (cara) Menolak Lupa

Pemerinah Indonesia sudah 70 tahun (sejak Indonesia merdeka) ‘membuang’ Provinsi NTT ke barisan terbelakang dari derap langkah pembangunan nasional. Selama 70 tahun juga, konsentrasi pembangunan terpusat di Jawa dan Bali.

Saya yakin, tidak seorangpun masyarakat Bali yang tau bahwa sebagian besar desa-desa dan daerah terpencil di NTT baru menikmati jalan aspal hot mix pada tahun 2023. Baru menikmati aliran listrik tahun 2023. Fasilitas air bersih masih terseok-seok. Makanya dulu pernah tenar anekdot “AIR SU DEKAT” untuk menggambarkan begitu sulitnya warga NTT mendapatkan air bersih sampai hari ini.

Bahkan singkatan NTT pun diplesetkan sesuai kondisi. Singkatan NTT diplesetkan menjadi Nasib Tidak Tentu, ada juga diplesetkan menjadi Nanti Tuhan Tolong.

Apa korelasinya dengan gejolak sosial yang tengah terjadi di Bali hari-hari ini?
Jika saja pembangunan di NTT berangkat dari titik start yang sama dengan pembangunan di Bali dan Jawa, pasti lain cerita. Faktanya 70 tahun Indonesia merdeka, NTT tetap menjadi provinsi terbelakang dalam semua sektor pembangunan.

Apakah NTT miskin potensi pembangunan? NO…!! Potensi pembangunan NTT kuat. Tetapi pemerintah pusatlah yang memposisikan NTT sebagai anak tiri yang sengaja disishkan dari perhatian, sejak Indonesia merdeka.

Salah satu bukti potensi adalah Pariwisata Labuan Bajo yang tiba-tiba meroket tajam tahun 2023 lalu. Kenapa baru tahun 2023? Apakah potensi wisata Labuan Bajo baru ada tahun 2023? TIDAK…! Kekuatan alam Labuan Bajo jadi pariwisata sudah ada bahkan sebelum Indonesia ada. Tetapi mengapa baru tahun 2023 dikenal luas? Pemerintah pusatlah yang harus menjawab ini.

See also  Menuju Tahun 2026

Tetapi dengan pedih, harus saya katakan bahwa selama 70 tahun merdeka, pemerintah hanya fokus membangun dan memoles potensi pariwisata di Bali dan Jawa. Efeknya Bali dan Jawa jadi “gula” lapangan kerja. Dibanjiri pencari kerja dari seluruh negeri termasuk anak-anak Sumba yang datang dengan SDM rendah.

Padahal potensi wisata Labuan Bajo sesungguhnya jauh di depan, jika disandingkan dengan potensi wisata Bali dan Jawa. Alam NTT adalah “surga yang terbuang’. Salah seorang tokoh Bali, Arya Weda Karna (AWK) mengungkap pengakuan ini saat kunjungan kerja DPD RI ke Labuan Bajo November 2025 lalu.

Itu baru Labuan Bajo yang hanya secuil dari wilayah NTT. Pulau Sumba, Pulau Flores dan Pulau Timor masing-masing punya potensi wisata alam dan laut yang niscaya bisa mengubah NTT menjadi Provinsi bermartabat secara ekonomi dan sosial.

Faktanya, pemerintah pusat seolah tidak punya mata untuk melihat NTT dalam perspektif pembangunan yang adil dan merata. Tragisnya lagi, ketidakadilan seperti itu dibiarkan puluhan tahun. Masyarakat NTT akhirnya bertambah miskin, lantaran uang para orang tua habis buat biaya anak mereka yang kuliah di Bali dan Jawa.

Jika di NTT banyak sekolah dengan mutu bagus, banyak Perguruan Tinggi di pulau Sumba, pulau Flores dan pulau Timor, pasti tidak ada anak-anak sumba yang hari ini SDM rendah, pasti tidak ada anak-anak NTT yang hari ini kurang paham tata karma. Pasti tidak ada tabiat minum mabok sampai berkelahi.

Faktanya, Sekolah-sekolah di NTT mayoritas minim fasilitas belajar. Tidak seperti di Bali dan Jawa. Perguruan Tinggi di NTT tidak banyak. Mayoritas ada di Kupang ibu kota provinsi NTT, itupun bisa dihitung dengan jari. Makanya ribuan anak NTT jadi mahasiswa di Bali, hampir di semua Perguruan Tinggi mereka ada.

See also  LPD Bali Jangan Sampai Terdegradasi dengan Kasus Korupsi Saat Ini

Jika di NTT banyak lapangan kerja, sebagai hasil pembangunan, pasti tidak ada anak-anak Sumba yang merantau ke Bali sebagai buruh bangunan, buruh pengangkut batu dan pasir yang siap diupah murah.

Pasti tidak ada gadis-gadis NTT yang merantau ke Bali jadi asisten rumah tangga dan pelayan toko. Singkatnya pasti hanya segelintir warga NTT yang merantau ke Bali baik untuk menuntut ilmu maupun untuk cari kerja.

Jadi…. Gejolak sosial yang hari-hari ini terjadi di Bali, seperti larangan sewa kos, sampai ada yang diusir pulang ke kampungnya sesungguhnya adalah TAMPARAN keras bagi Pemerintah Pusat yang selama 70 tahun lebih “membuang NTT.’

Itu berarti, jika pemerintah Pusat tidak mengubah arah prioritas pembangunan, maka jangan berharap gejolak sosial yang hari hari ini terjadi di Bali akan berakhir. Bahkan sangat mungkin terduplikasi di daerah lain, tak hanya di Bali.

Mari berpikir bijak. Jangan buat kebijakan sentimental dengan pendekatan situasional.

(Visited 12 times, 1 visits today)