BALI PARIWISATA

Meresahkan! Guide Mandarin tidak Suka Menjelaskan Budaya Bali ke Tamu Cina

DENPASAR, Fajarbadung.com – Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali Nyoman Nuarta mengeluhkan tentang guide bahasa Mandarin di Bali yang tidak mau menjelaskan budaya Bali kepada wisatawan asal Cina. “Sudah banyak guide Mandarin atau yang berbahasa Cina tidak mau menjelaskan budaya Bali. Padahal sesungguhnya minat tamu asal Cina terhadap budaya sangat tinggi. Saya sangat kuatir jika ini dibiarkan maka eksistensi budaya Bali cepat atau lambat kian merosot. Dan yang paling mengkuatirkan lagi virus ini akan menular ke pasar negara lainnya seperti Eropa, Amerika, dan Australia atau beberapa negara di kawasam Asia yang juga menjadi pasar pariwisata Bali. Sebab mereka juga pingin cepat, murah, tetapi sangat menikmati,” ujarnya di Denpasar, Jumat (10/1).

Menurutnya, hasil penelusuran sebagai HPI Bali menunjukkan, ada dua penyebab mengapa guide Mandarin di Bali enggan menjelaskan budaya Bali. Pertama, para guide itu terdesak agar bisa menjual opsi-opsi destinasi yang mudah, murah, simple. Secara bisnis hal ini sangat menguntungkan mereka. Para guide ini ditekan bila tidak menjual pilihan termurah maka mereka akan kehilangan pekerjaan dan tidak mendapatkan tamu lagi. Kedua, pola market subsidi yang diberlakukan langsung dari negeri asalnya. Pola subsidi ini artinya agen dipaksa berani membeli berapa. Semakin murah maka mereka akan disubsidi oleh perusahan. Disini sangat berpotensi paket dijual secara murah, mudah, cepat dijangkau. “Pola bisnis ini membuat Bali dijual murah, tidak bisa menjelaskan pariwisata dan budaya, karena lebih hemat dan murah. Ini sangat berbahaya. Sebab Bali ini adalah pariwisata budaya. Lalu bila budaya tidak menjadi prioritas maka Bali akan cepat dilindas pesaing,” ujarnya.

Saat ini di Bali, guide Mandarin yang memiliki lisensi sekitar 1400 orang. Sementara yang tidak memiliki lisensi terpantau sekitar 600 orang. Namun menariknya, guide yang sudah memiliki lisensi pun ikut terpengaruh pasar dan bisnis. Mereka mulai ikut arus dengan tidak lagi menjelaskan budaya Bali ke tamu Cina. Sebab disana ada keuntungan yang besar. Masalah ini menyebabkan, sekalipun banyak tamu asal Cina di Bali namun spending money di Bali sangat kecil. “Jumlah kunjungan tidak sebanding dengan benefit yang didapatkan di Bali. Sebaliknya banyak guide luar Bali yang membawa tamu Cina menggunakan transportasi dari luar Bali. Kita hanya terima macet dan sampah,” ujarnya.(axelle dae/fb)

error: Content is protected !!