MPLS Ramah di Karawang, Wamendikdasmen Tegaskan Sekolah Harus Ramah dan Bebas Intimidasi

0
206
FOTO : Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat.

KARAWANG, Fajarbadung.com  — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, melakukan peninjauan langsung pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Lampu Iman, Karawang. Kegiatan MPLS yang diselenggarakan serentak di seluruh Indonesia ini bertujuan menyambut peserta didik baru dan membekali mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan edukatif.

Dalam sambutannya, Wamendikdasmen menegaskan bahwa MPLS bukan sekadar kegiatan rutin tahunan, melainkan momentum penting untuk membentuk karakter siswa sejak dini. “Tagline kita adalah ‘MPLS Ramah’. Tidak boleh ada unsur intimidasi, apalagi perploncoan. Semua aktivitas harus mengacu pada pedoman yang telah ditetapkan oleh Kemendikdasmen,” ujarnya di Karawang, Senin (14/7).

Ia juga mengapresiasi kontribusi satuan pendidikan swasta seperti SIT Lampu Iman yang dinilai mampu mengintegrasikan pendekatan keislaman dan teknologi secara harmonis. Lebih lanjut, pemerintah tengah menyiapkan formulasi agar bantuan pendidikan dapat menjangkau lebih merata sekolah-sekolah swasta non-pungutan di seluruh Indonesia.

Pengawasan Daerah, Sinergi Pemkab Karawang dalam Menjaga Kualitas MPLS

Menanggapi pelaksanaan MPLS Ramah di wilayahnya, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Karawang, Wawan Setiawan, menyampaikan bahwa pihaknya telah membentuk tim pemantau MPLS lintas jenjang sejak hari pertama sekolah.

“Kami membentuk tim pengawasan melalui surat keputusan yang melibatkan pengawas, penilik, dan unsur struktural Disdikpora. Mereka tersebar di berbagai titik sekolah dari SD, SMP hingga MTs. Hingga saat ini, laporan yang kami terima menyatakan bahwa pelaksanaan MPLS berlangsung tertib, lancar, dan selaras dengan semangat MPLS yang ramah dan edukatif,” ungkapnya.

See also  KSP Apresiasi Penyelenggaran Hoegeng Awards 2022

Ia juga menjelaskan bahwa pedoman MPLS Ramah di Karawang telah diselaraskan dengan surat edaran dari Gubernur Jawa Barat, termasuk pengaturan jam masuk mulai pukul 06.30 WIB dan skema pembelajaran lima hari sekolah. Hari Sabtu dan Minggu dioptimalkan untuk pengembangan guru dan waktu kebersamaan keluarga bagi siswa.

Untuk mencegah praktik perploncoan, Disdikpora Karawang juga memberikan arahan tegas bahwa panitia MPLS harus berasal dari kalangan guru, bukan dari siswa senior atau OSIS.

“Kami menegaskan bahwa panitia MPLS adalah para guru. Ini bentuk upaya konkret kami untuk memastikan kegiatan berjalan aman, kondusif, dan tanpa intervensi senioritas yang berpotensi memunculkan praktik intimidasi,” tegasnya.

Dalam menjaga mutu pendidikan secara menyeluruh, Dinas Pendidikan Karawang juga terus membangun sinergi antara sekolah negeri dan swasta. Para pengawas dan penilik rutin melakukan silaturahmi dan pemantauan berkala, termasuk terhadap satuan pendidikan nonformal seperti PAUD dan TK.

Pandangan Wali Murid, Peran Orang Tua dalam MPLS

See also  Kabaranhan Kemenhan RI Memberikan Kuliah Umum Mahasiswa STTAL Bumimoro Surabaya

Kehadiran Wamendikdasmen juga membuka ruang partisipasi masyarakat, termasuk dari orang tua siswa. Salah satu yang turut memberikan pandangan adalah Ibu Ira, wali siswa SMP SIT Lampu Iman. Ia menyambut baik pelaksanaan MPLS Ramah tahun ini.

“Saya berharap MPLS Ramah ini bisa memberikan hal-hal positif bagi anak-anak ke depan. Yang paling utama adalah mereka merasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah. Alhamdulillah, sejauh ini informasi terkait MPLS Ramah sudah disampaikan dengan jelas oleh pihak sekolah,” ujarnya.

Menurutnya, MPLS Ramah memiliki peran penting dalam membantu anak-anak bertransisi secara mental dan emosional ke jenjang pendidikan baru. Ia juga mengapresiasi keterlibatan orang tua, meski secara tidak langsung.

“MPLS Ramah membantu anak mempersiapkan diri secara mental untuk memulai petualangan belajar. Kegiatan ini juga menjadi jembatan bagi orang tua untuk membangun hubungan yang baik dengan sekolah dan memahami visi-misi yang diusung,” jelasnya.

Namun demikian, Ira menyampaikan beberapa masukan konstruktif sebagai bentuk kepedulian orang tua. Kekhawatiran yang umum muncul antara lain adalah informasi yang kurang lengkap, potensi perundungan, dan tugas yang terlalu berat atau tidak relevan.

“Masukan saya, sekolah perlu terus memperjelas informasi dan memastikan kenyamanan selama kegiatan. Yang lebih penting lagi adalah pengawasan yang ketat dan penerapan nilai-nilai positif dalam setiap rangkaian MPLS Ramah,” tutupnya.

See also  Rapat Perdana, PWI Komit Kembalikan Marwah Organisasi

MPLS Ramah bukan semata kegiatan di awal tahun ajaran, melainkan langkah awal yang menentukan dalam membentuk karakter, membiasakan nilai-nilai positif, dan menumbuhkan semangat belajar pada diri setiap anak. Inilah fondasi awal bagi perjalanan panjang mereka dalam menempuh pendidikan.

Apa yang dilakukan oleh para guru, orang tua, dan pemerintah hari ini melalui sinergi yang saling menguatkan merupakan bentuk investasi besar bagi masa depan bangsa. Sebab sejatinya, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi rumah kedua yang tumbuh bersama kasih sayang, bimbingan, dan rasa aman.

Melalui keterlibatan semua pihak, mari kita wujudkan sekolah sebagai ruang tumbuh yang dirindukan, bukan ditakuti. Karena pendidikan yang ramah, aman, dan inklusif bukanlah kemewahan, melainkan hak setiap anak Indonesia.(*)

(Visited 4 times, 1 visits today)