Pentingnya Keterbukaan dan Egalitarian dalam Pendidikan Keluarga

0
45
Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan Juri Ardiantoro dalam Forum Diskusi Pendagogik PP IKA-UNJ bertema “Peran Ilmu Keluarga Dalam Merevitalisasi Sistem Trisentra Pendidikan Nasional”, yang digelar secara daring, Rabu (30/11). Foto : Ist

JAKARTA, Fajarbadung.com – Pendidikan harus bisa beradaptasi dengan kehidupan sosial yang telah dan sedang berubah sangat cepat. Termasuk pendidikan di dalam keluarga. Pernyataan ini disampaikan Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan Juri Ardiantoro dalam Forum Diskusi Pendagogik PP IKA-UNJ bertema “Peran Ilmu Keluarga Dalam Merevitalisasi Sistem Trisentra Pendidikan Nasional”, yang digelar secara daring, Rabu (30/11).

Menurut Juri, hal penting yang harus diubah dalam pendidikan di dalam keluarga adalah pola pikir orang tua untuk tidak lagi menempatkan anak sebagai objek, melainkan sebagai subjek. Sehingga terjadi dialog seimbang antara orang tua dan anak.

Ia pun menekankan pentingnya orang tidak tidak perlu lagi khawatir kehilangan kharisma atau wibawa di depan anak jika membuka komunikasi yang terbuka dan seimbang. Justru hal itu akan menambah rasa bangga dan kagum anak kepada orang tua. “Keterbukaan dan egalitarian menjadi kunci komunikasi. Anak jangan lagi dianggap tidak tahu apa-apa. Apalagi saat ini pergaulan mereka sudah beralih ke dunia digital yang sangat terbuka dengan akses informasi,” kata Juri yang juga Ketua Ikatan Alumni Universitas Jakarta (IKA-UNJ).

See also  Pangdam Terima Audiensi Ketua Beserta Pengurus Permabudhi Provinsi Bali

Masih kata Juri, pendidikan keluarga yang merupakan bagian dari tiga pusat pendidikan, yakni sekolah, keluarga, dan masyarakat, harus didorong oleh lingkungan yang mendukung. Terlebih, bagi sebagian orang tua yang intensitas pertemuannya dengan anak sangat kurang.

Atas kondisi tersebut, lanjut dia, harus ada ada media yang bisa menggantikan peran orang tua selain sekolah. Seperti ketersediaan fasilitas publik, tempat bermain, perpustakaan umum, dan bahan-bahan tontonan yang bersifat edukatif. “Sehingga asupan nilai-nilai dan kemampuan lain yang menjadi tugas keluarga tetap dapat dipenuhi,” terang Juri yang juga Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia).**Chris

(Visited 3 times, 1 visits today)