Renungan Galungan; Kapan (kita) Berperang?

0
124
Foto : Dok - Pusparini.

Oleh Wayan Suyadnya

Hari ini umat Hindu merayakan Galungan—hari suci yang selalu disebut sebagai kemenangan dharma melawan adharma.

Setiap 210 hari sekali, ketika wuku Dungulan tiba tepatnya Rabu Kliwon mengetuk kalender wariga, kita selalu merayakan galungan sebagai hari kemenengan dharma melawan adharma.

Kemenangan dharma, mengalahkan adharma, begitu kita menyebutnya. Benarkah demikian? Kapan kita berperang? Kemenangan apa? Perang yang mana? Siapa sesungguhnya yang menang?

Sejarah lisan dan mitologi menceritakan Mayadanawa—kegelapan yang menutupi dunia—yang akhirnya dikalahkan oleh Bhatara Wisnu. Itu adalah kemenangan para dewa, kemenangan kosmis.

Galungan yang kita rayakan hari ini bukan hanya sekadar perayaan kemenangan Bhatara Wisnu ribuan tahun lalu. Ia adalah ajakan halus, renungan senyap: apakah kita sendiri sudah menang?

Berbeda dari agama lain yang menyalakan kemenangan setelah puasa panjang atau laku berat, Galungan sering hadir begitu saja—datang dengan penjor yang melengkung anggun, dengan jerimpen, dengan bau canang dan jajan warna-warni—tanpa peperangan yang kita ingat.

See also  LPD Bali Jangan Sampai Terdegradasi dengan Kasus Korupsi Saat Ini

Tidak ada catatan kapan kita mulai bertarung, berapa lama peperangan berlangsung, apa indikator bahwa adharma telah kita tumbangkan.

Umat Hindu hidup dalam wariga—siklus waktu 210 hari—dan sesungguhnya di sanalah peperangan itu berlangsung. Setiap hari, setiap saat. Dari sinta ke Landep, dari Some, hingga Redite. Peperangan yang tidak berisik, peperangan dalam batin.

Pada ujung wariga, tepatnya saat Saniscara Umanis Watugunung, gunung simbolisme itu runtuh, dan ilmu pengetahuan diturunkan. Itulah Saraswati—hari ketika terang diturunkan ke dunia, ketika pikiran manusia dibasuh agar mampu membedakan mana jalan dharma, mana lorong adharma.

Keesokan harinya, saat Banyu Pinaruh, tubuh dan pikiran kembali dibersihkan, seolah Tuhan berkata: “Bersiaplah, hidup dimulai lagi.”

Lalu datang Some Ribek, lalu Pagerwesi—pagar besi bagi pengetahuan yang bebas nilai. Di sinilah ajaran Tri Kaya Parisudha, larangan atas Sad Ripu, pencegahan Saptatimira dipertegas. Sebab ilmu tanpa pagar adalah api tanpa arah; ia bisa menerangi, bisa pula membakar.

See also  Indonesia Bebas Korupsi, Belajar dari Negara Inggris dan Denmark

Ketika ilmu sudah dipageri, lahirlah teknologi—ketajaman pikiran yang diperingati sebagai Tumpek Landep. Dari keris hingga pesawat, dari pacul hingga mesin. Teknologi yang kemudian membuat kebun subur, ladang hidup, dan pepohonan gemuk berbuah.

Pada pepohonan itulah, 25 hari sebelum Galungan, dikabarkan: “Nged… nged… nged… Galungan buin selai dine… berbuahlah yang lebat.” Pepohonan pun turut bersiap menyambut kemenangan.

Maka tibalah hari ini—Galungan. Kemenangan yang bukan tiba-tiba, bukan hadiah, bukan pengumuman otomatis.

Kemenangan ini adalah hasil dari siklus panjang: pengetahuan yang diturunkan, dibersihkan, dipageri, ditajamkan, diberi ladang untuk hidup, diberi pepohonan untuk rimbun, diberi waktu untuk tumbuh.

Galungan tidak merayakan kemenangan yang sudah pasti. Ia merayakan kesiapan kita untuk menang.

Pertanyaannya, pada hari yang suci ini: apakah kita sungguh menang? Sudahkah kita menaklukkan sad ripu yang menggerogoti hati? Sudahkah kita menyisihkan keserakahan, amarah, tamak, iri? Sudahkah ilmu yang kita miliki berpihak pada kebajikan? Sudahkah pagar batin kita kokoh menjaga dari gelap?

See also  Nyepi Tak (hanya) Agama

Jika belum, Galungan bukanlah kemenangan; ia baru peringatan. Jika sudah, barulah Galungan adalah puncak terang—kemenangan sunyi yang tidak diumumkan, tidak diagungkan, tetapi dirasakan di dalam dada.

Selamat Hari Raya Galungan. Semoga dharma benar-benar menang, bukan hanya di kalender, tetapi di hati, pikiran, dan perjalanan hidup kita.

Singaraja, 18 Nopember 2025

(Visited 5 times, 1 visits today)