
DENPASAR, Fajarbadung.com – Lebih dari 2000 warga Desa Adat Serangan menggelar Upacara Memintar pada Jumat, 19 Desember 2025. Ritual tolak bala yang telah diwariskan sejak 1996 ini kembali dilaksanakan sebagai upaya menjaga keseimbangan skala dan niskala di wilayah Pulau Serangan.
Secara etimologis, memintar berasal dari kata mintar yang berarti berkeliling. Prosesi
utama ritual ini dilakukan dengan mengarak petapakan Barong dan Rangda mengelilingi
Pulau Serangan, setelah rangkaian persembahyangan di Pura Kahyangan, Pura Cemara, dan Pantai Melasti.
Upacara Memintar dilaksanakan setahun sekali pada sasih keenam atau tilem keenam.
Selama satu bulan sebelumnya, warga menghaturkan pejati dan memasang sawen di
rumah masing-masing sebagai bentuk proteksi spiritual.
Perarakan sejauh sekitar 4,7 kilometer ini juga melintasi kawasan KEK Kura Kura Bali, yang
di dalamnya terdapat delapan pura.
Kepala Komunikasi PT Bali Turtle Island Development (BTID), Zefri Alfaruqy, menjelaskan bahwa keterlibatan kawasan tersebut dilakukan bukan hanya karena keberadaan pura-pura di dalam kawasan, tetapi juga untuk menghormati budaya dan ritual keagamaan yang memang sudah mendarah daging dari pulau Serangan.
“Memintar merupakan tradisi turun-temurun sebagai upacara penolak bala yang terus dijaga hingga kini,” ujarnya.
Setelah proses perarakan, masing-masing krama banjar melaksanakan mekemit dengan
berjaga semalam suntuk di pura-pura yang disinggahi. Rangkaian upacara ditutup dengan
ritual nyejer , yakni mengembalikan benda-benda sakral ke tempat asalnya.
Upacara Memintar menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual masyarakat Desa Adat
Serangan, sekaligus wujud kebersamaan dalam menjaga keseimbangan ruang hidup
mereka.(*)

















