BALI PEDIDIKAN

SMASHED Project Ajak Pelajar Di Bali Membangun Life Skills Hadapi Persoalan Remaja

Program kreatif-edukatif membantu dan mendampingi remaja menghadapi tantangan dan tanggung jawab berfokus pada persoalan seperti perundungan atau bullying, penyebaran berita palsu dan bahaya minum minuman beralkohol di bawah umur

DENPASAR, Fajarabdung.com - Hari ini SMASHED Project memulai 3 hari program kreatif-edukatifnya di SMPN 3 Denpasar , yang membantu para siswa usia 12-15 tahun membangun ketrampilan hidup atau life skills dalam menghadapi persoalan remaja seperti perundungan (bullying), penyebaran berita palsu, dan bahaya minum
minuman beralkohol di bawah umur. SMASHED Project digelar oleh lembaga pendidikan Collingwood dari
Inggris yang bekerjasama dengan Dapoer Dongeng Noesantara, telah memulai program ini di Bali sejak 5
Agustus hingga awal September 2019 mendatang, dan akan menjangkau lebih dari 6,000 siswa di beberapa
sekolah menengah pertama di Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan.

Produser-Kurator Program dari SMASHED Project, Yudhi Soerjoatmodjo menyatakan, “SMASHED Project
berangkat dari latar belakang permasalahan remaja yang menghadapi beragam tantangan dan tuntutan
untuk memiliki tanggung jawab yang semakin serius terkait dengan sikap dan pilihan hidupnya. Maka dari itu
SMASHED Project hadir untuk memberikan sejumlah life skills praktis untuk menyelesaikan berbagai
kebingungan, kecemasan dan konflik yang dihadapi agar remaja bisa terus tumbuh menjadi dewasa yang
sehat lahir dan bathin.” SMASHED Project digelar bekerjasama dengan pihak sekolah dan diharapkan dapat
melengkapi pendidikan budi pekerti yang diberikan sekolah.

Pelaksanaan SMASHED Project di Bali adalah upaya melanjutkan keberhasilan pelaksanaan program yang
berlangsung pada tahun 2017-2018. Program ini menunjukkan perubahan positif pada 5,860 siswa kelas 7
dan kelas 8 di 20 SMP Negeri, Swasta dan Madrasah di Jabodetabek. Berdasarkan hasil survey pra dan paska
kegiatan terhadap siswa, terjadi perubahan pengetahuan dan sikap yang signifikan antara lain, 66% siswa
semakin memahami tentang bahaya perundungan (naik 26% dibanding sebelum mengikuti pelatihan); 77%
menjadi lebih tahu ke mana mereka harus bertanya bila menghadapi persoalan, termasuk ke guru BP (naik
28%); pengetahuan siswa terkait usia legal minum alkohol diatas 21 tahun berdasarkan peraturan
pemerintah naik sebesar 50%.

Dalam penyampaian pesannya, SMASHED project menggunakan metode yang interaktif dan menyenangkan
melalui pertunjukan teater serta kegiatan dialog dan workshop membuat poster. Pertunjukan teater
diperankan oleh tiga aktor yang kerap tampil bersama Teater Koma dan Teater Bulungan. Menurut Yudhi,
pertunjukkan teater digunakan untuk memberikan pengalaman belajar melalui cerita yang kuat dan
menggerakkan emosi. Para siswa akan dibawa ke narasi cerita yang akan menantang mereka untuk
memikirkan ulang keputusan-keputusan yang dibuat oleh para karakter tersebut termasuk konsekuensinya.
Selain itu, aktivitas workshop juga menjadi bagian penting dari pengalaman belajar. Setelah menonton
pertunjukkan teater, workshop memberikan transisi dari pola pembelajaran didaktik menjadi pelibatan yang
lebih interaktif. Dipandu oleh tim pakar perkembangan anak atau fasilitator dari Program Studi Psikolog
Psikologi Universitas Udayana, para siswa yang mengikuti program dapat mengidentifikasi capaian
pembelajaran yang relevan bagi diri masing-masing, yaitu keterampilan dan informasi yang diperlukan agar
dapat membuat pilihan bijak dan mencapai tujuan.

Untuk pertama kalinya, SMASHED Project berlangsung di Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan. Yudhi
menyatakan pilihan untuk memulai pelaksanaan SMASHED Project di dua daerah ini berdasarkan pada
pertimbangan perkembangan pariwisata di Bali yang memungkinkan remaja terpapar oleh dan
mengadaptasi budaya yang dibawa oleh turis domestik maupun mancanegara. Proses adaptasi budaya ini
perlu mendapatkan perhatian dan pendampingan yang layak. “Collingwood dan Dapoer Dongeng
Noesantara sangat bersemangat membantu dan mendampingi remaja di Bali untuk menghadapi tantangan
dan tanggung jawab sebagai wujud proses pendewasaan. Diharapkan pelaksanaan SMASHED Project di Bali
dapat menduplikasi keberhasilan yang telah dicapai pada pelaksanaan sebelumnya di sekolah-sekolah
menengah pertama di Jakarta dan sekitarnya dan memberikan manfaat yang sama. Let’s get smart, don’t get
smashed!,” pungkas Yudhi. (red/FB)
error: Content is protected !!