MANGUPURA, Fajarbadung.com – Titik timbulan dan tumpukan sampah ilegal dibeberapa wilayah di Kabupaten Badung meskipun volume sampah dinilai menurun dari volume sebelumnya.
Menghadapi kondisi tersebut menurut, Anggota DPRD Badung, Fraksi Gerindra, I Wayan Puspa Negara menyebut, meskipun terdapat timbulan dan kumpulan sampah akibat masih rendahnya kesadaran masyarakat, tidak sertamerta men-justifikasi masyarakat.Akan tetapi, lebih pada tingkatkan pelaksanaan sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat baik, pendatang maupun lokal di Kabupaten Badung.
“Iya, pembuangan sampah kan ini sudah diatur di masing-masing desa dan kelurahan. Titik-titiknya sudah jelas. Seperti misal, kami di Kelurahan Legian, sampah itu dikumpul oleh masyarakat di depan kelurahan. Itu sudah diatur.Senin, Selasa, Kamis, Sampah organik. Jumat, Sabtu, Minggu: Sampah anorganik dan residu.Itu sudah diatur kalendernya oleh masing-masing kelurahan dan disesuaikan jadwalnya. Nah, kalau ada pengumpulan titik-titik sampah ilegal, yang bermasalah adalah perilaku masyarakat. Tapi kita juga tidak men-justifikasi masyarakat siapa,” terangnya belum lama ini di Badung.
Dirinya mencontohkan, heterogenitas masyarkat sangat tinggi khususnya didestinasi pariwisata di Kabupaten Badung sehingga volume sampah tentu akan berbeda setiap harinya.
“Yang perlu kita lihat sekarang adalah di daerah destinasi, masyarakat itu heterogenitasnya sangat tinggi. Ada penduduk lokal, kalau penduduk lokal, penduduk asli atau warga lUluwatu, 99% mereka taat memilah sampah dan kita patut apresiasi. Tapi yang masalah adalah penduduk di destinasi itu jumlah pagi, siang, dan malam itu berbeda. Belum kita menghitung wisatawan yang juga akan membawa sampah,” paparnya.
Menghadapi kondisi tersebut Dirinya menyebutkan, informasi yang akurat, penting diberikan baik kepada masyarakat lokal maupun pendatang sehingga mendapat sosialisasi yang sama.
“Jadi mereka yang bekerja, mencari penghidupan, dan beraktivitas dari luar wilayah itu, ini juga berpotensi menghasilkan sampah. Contohnya mereka yang kos. Mereka yang kos kadang tidak mendapatkan informasi yang akurat, apalagi pemilik kosnya adalah orang luar atau dari Jakarta misalnya, sehingga tidak mendapat sosialisasi sama sekali.Nah, ini yang harus diagresifkan pemberian sosialisasi kepada stakeholders dalam hal ini pemilik rumah kos, pemilik apartemen, pemilik kondotel, karena di situ ada hunian. Selama ini yang kita sinyalir, mereka yang kos dan mencari pekerjaan di siang, pagi, dan malam hari ini berpotensi menaruh sampah di tempat-tempat yang tidak jelas atau titik-titik yang liar,” bebernya.
Dirinya mendorong DLHK Kabupaten Badung lebih memaksimalkan sosialisasi dengan melibatkan berbagai lapisan pemerintahan desa serta masyarakat di Kabupaten Badung.
“Artinya kita mendorong DLHK sebagai unit teknis untuk memperkuat pola pembinaan dan pola sosialisasi terhadap penduduk heterogen ini, dengan melibatkan unsur masyarakat setempat seperti kepala lingkungan, kepala dusun, lurah, dan kepala desa,” sebutnya.
Dirinyan menjelaskan, selain edukasi kepada masyarakat seperti, pemilahan sampah disumber.Pelaku usaha juga harus edukasi kepada karyawan dan wisatawan ditempat usahanya.
“Saya secara pribadi setiap hari Jumat pagi mengumpulkan pelaku usaha di pantai. Kita terus sosialisasikan, Memilah sampah, Meskipun TPST/TPS3R nanti hadir, sampah tetap harus dipilah. Tidak ada satu pun negara di Asia Tenggara yang warganya tidak memilah sampah, kecuali kita yang baru belajar selanjutnya, edukasi, Pelaku usaha harus memberi edukasi kepada staf dan wisatannya.Mengingat wisatawan juga produksi sampah,” sebutnya.
Puspa Negara berharap, selain sosialisasi.Inprastruktur dalam penanganan sampah penting diperhatikan, seperti penyediaan tong sampah hingga mendorong pemkab Badung tambah jumlah kendaraan compactor (truk sampah yang bisa langsung mempres dan menggiling sampah).
“Langkah penguatan yang harus dilakukan, Penguatan behavior, Sikap dan perilaku masyarakat serta sosialisasi yang masif dari hari ke hari, Pembangunan infrastruktur misal Tong sampah yang terpilah dan pola pengangkutannya serta, Saya justru mendorong agar Badung memiliki lebih banyak kendaraan Compact,”harapnya.(FB005)

















