Catatan Paradoks: Wayan Suyadnya
Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar bicara tentang pentingnya Kurikulum Cinta pada pembukaan Pesamuan Agung PHDI, Jumat, 17 Oktober 2025 malam.
Suasana menjadi hangat. Kata “cinta” meluncur dari seorang menteri di tengah dunia yang semakin bising oleh ujaran kebencian, membuat publik sejenak berhenti dan menoleh.
Cinta, katanya, harus menjadi dasar pendidikan, harus menjadi nilai yang membentuk cara pandang bangsa. Tapi di dunia paradoks ini, cinta sering hanya jadi wacana indah — lahir di ruang rapat, lalu mati di meja konsep.
Kita berbicara tentang cinta, sementara bumi terus dilukai. Sungai dikotori, hutan dirampas, udara dicemari. Kita menyebut cinta pada sesama, tapi menutup mata pada pepohonan yang tumbang dan binatang yang kehilangan rumahnya.
Kita lupa, cinta sejati tidak lahir dari kata, melainkan dari kesadaran: bahwa hidup ini satu kesatuan, bahwa bumi bukan objek, melainkan bagian dari diri kita sendiri.
Jika cinta hendak diajarkan, mestinya ia tumbuh dari teologi yang berpihak pada kehidupan — ecotheologi, teologi yang berpijak pada bumi.
Di sinilah sesungguhnya ajaran Hindu menempati posisi yang paling tua dan paling maju sekaligus.
Hindu sudah lama berbicara tentang harmoni kosmis lewat Tri Hita Karana — keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan).
Dari sinilah cinta mendapat maknanya yang sejati. Karena dalam pandangan Hindu, seluruh semesta adalah satu tubuh yang sama. Tat Twam Asi — “Kau adalah aku.”
Kau adalah aku — bukan hanya dalam arti sesama manusia, tetapi juga kucing yang melintas, pepohonan yang diam, batu yang bisu, dan air yang mengalir tanpa henti.
Maka menyakiti kucing adalah menyakiti diriku sendiri. Menebang pohon tanpa alasan adalah memutus nadi sendiri. Ketika pohon disiram, ia tumbuh segar, dan aku pun ikut segar. Ketika kucing diberi makan, ia bahagia, dan kebahagiaan itu pun memantul di dalam diriku.
Namun dunia paradoks selalu punya cara untuk membalik makna. Ada yang menuduh, “Hindu menyembah batu, menyembah pohon.” Padahal bukan batu dan pohon yang disembah, melainkan kekuatan Hyang Widhi yang menjiwai batu dan pohon itu. Menyembah yang Maha Suci yang bersemayam dalam segala rupa — menjadikan alam semesta bukan sekadar ciptaan, tapi atman yang juga cerminan Sang Pencipta.
Itulah puncak ecotheologi: ketika manusia tidak lagi memisahkan dirinya dari alam, tetapi memuliakan semesta sebagai wujud dari Tuhan itu sendiri.
Maka, ketika Menteri Agama Nasaruddin Umar berbicara tentang cinta, semoga cinta yang dimaksud tidak berhenti pada retorika dan romantika belaka, melainkan meluas hingga pada daun-daun yang gugur dan angin yang berembus. Sebab cinta yang sejati tidak hanya memeluk manusia, tapi juga memeluk bumi.
Karena pada akhirnya, cinta bukan sekadar kata kerja — ia adalah kesadaran.
Bahwa di antara langit dan bumi, di antara pohon dan manusia, di antara air dan doa, hanya ada satu napas yang sama.
Tat Twam Asi — Kau adalah aku. Dan dari sanalah cinta sesungguhnya bermula.
Jakarta, 18 Oktober 2025


















