NUSANTARA

Diduga Tidak Ada APD Covid-19, Tenaga Medis di RSUD Atambua Mogok Kerja

ATAMBUA, Fajarbadung.com – Tidak adanya APD (Alat Pelindung Diri) yang diberikan pihak manajemen RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua kepada petugas yang akan menangani pasien Covid-19, membuat para tenaga medis mmelakukan mogok kerja, pada Selasa (14/04/2020).

Mogok kerja ini dilakukan lantaran ada salah seorang pasien yang tergolong ODP melakukan rawat inap di RSUD Atambua dengan gejala Covid-19.

Diketahui, Pasien tersebut baru dua minggu lalu datang dari Papua. Sejak malam kemarin (13/4/2020) datang ke RSUD Atambua dengan gejala sakit Covid-19. Pasien tersebut pun di rawat inap di salah satu ruangan yang ada di RSUD Atambua.

Memang, Gubernur NTT, Victor Laiskodat telah menetapkan RSUD Atambua sebagai salah satu Rumah Sakit Rujukan. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Belu pun tak main-main dengan menggelontorkan dana sebesar Rp 11,92 M kepada pihak RSUD Atambua sebagai bentuk dukungan dalam percepatan pencegahan Covid-19.

Akan tetapi, sampai dengan saat ini, para tenaga medis yang bekerja di RSUD Atambua tidak mendapatkan APD. Hal ini membuat para tahanan medis pun ketakutan dalam menangani pasien dengan gejala Covid-19.

Apalagi saat mereka tahu ada salah seorang pasien yang rawat inap di RSUD Atambua mengalami gejala Covid-19. Karena itu, mereka pun melakukan mogok kerja dengan berkumpul di Aula Lantai III RSUD Atambua pagi hingga siang tadi dan diadakan rapat rapat dengan Direktur RSUD Atambua untuk menanyakan sudah sejauh mana rencana pengadaan APD bagi para tenaga medis.

Pantauan awak media Selasa siang (14/04) ruangan screening tidak terlihat seorang petugas pun disana dan juga ruangan isolasi pun masih terkunci rapat.

Sementara itu, Direktur RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua, dr. Bethesba Elena Corputty saat dikonfirmasi awak media ini membantah terjadi pemogokan dan dirinya sendiri tidak tahu darimana berita tersebut muncul.

Hal itu lantaran pihaknya bersama stafnya di RSUD sedang melakukan evaluasi terkait tenda screening dan kendala-kendala di lapangan.

“Ini kami ada evaluasi jangan sampai ada kendala-kendala di lapangan,” pinta dr. Elen Corputty.

Ketika ditanya soal ada keluhan dari beberapa tenaga medis terkait APD, Direktur RSUD Atambua ini menerangkan bahwa sebenarnya barangnya sudah ada hanya pihak yang akan menggunakan peralatan belum melakukan permintaan.

“Keluhan itu karena mereka belum melakukan permintaan. Barangnya sudah ada. Kita kan tidak bisa kasih-kasih saja. Bila permintaan sudah ada maka dari gudang kasih keluar dan bisa tercatat,” jelasnya.

Melanjutkan penjelasan dan sekaligus mendukung pernyataan tersebut, PLT. Sekertaris Daerah Belu, Marsel Mau Meta mengatakan pada saat pemeriksaan oleh BPK, akan ditelusuri mulai dari persediaan, pengadaan dan pemakaian.

“Itu benar karena BPK periksa pertama itu persediaan, pengadaan dan kemudian pemakaian. Kalau tidak sesuai maka harus dipertanggungjawabkan,” tuturnya.

Untuk diketahui, dalam rangka persiapan penanganan terhadap virus Corona (Covid-19) di Wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL, Pemerintah Daerah Belu telah mengalokasikan dana penanganan terhadap Covid-19 kepada Rumah Sakit Umum Daerah Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua.

Tidak tanggung-tanggung, Pemerintah Kabupaten Belu mengalokasikan dana sebesar Rp. 11.294.850.356.

Terkait dengan rincian alokasi dana penanganan Covid-19 akan digunakan untuk pembayaran honor dokter, perawat, dan petugas kesehatan khusus penanganan pasien Covid-19.

Rincian dana lainnya, pihak RSUD akan melakukan pengadaan barang dan jasa medis dalam hal ini logistik obat, regen, alat medis habis pakai, pengadaan alat pelindung diri (APD) serta kebutuhan lainnya untuk penanganan covid-19.

Selain itu, pengadaan suku cadang alkes dalam hal ini belanja modal termasuk mebel laboratorium beserta perlengkapan alkes sekaligus pengadaan tempat tidur, bedside monitoring dan inkubasi.

Pihak RSUD Atambua juga akan melakukan pengadaan komputer dan CCTV pada ruangan isolasi, sekaligus kebutuhan alat rumah tangga berupa tirai plastik, tempat sampah, ember dan kantong jenazah.

Kemudian pengadaan pakaian khusus bagi pasien dan pakaian kerja khusus bagi petugas sesuai standar untuk penanganan covid-19, serta dua unit ambulans khusus untuk pelayanan rujukan pasien covid-19.

Dari anggaran tersebut, pihak RSUD Atambua juga akan mengganggarkan biaya makan – minum bagi petugas medis selama menangani pasien Covid-19, biaya BBM untuk rujukan sekaligus biaya perjalanan untuk rujukan pasien. (Ronny/fb).

(Visited 22 times, 1 visits today)
error: Content is protected !!