Galungan (segera) Tiba

0
144
Foto : Dok - Fajarbadung.

Oleh Wayan Suyadnya

Rainan jagat Galungan segera tiba. Suasana mulai terasa sejak hari-hari ini—bau janur yang baru dipetik seakan terasa segarnya, bambu penjor sudah mulai diperjualbelikan.

Di balik gegap gempitanya, Galungan kini tampak berubah, seolah kehilangan sesuatu yang dulu begitu sakral sekaligus meriah.

Waktu saya kecil, Galungan adalah hari raya yang paling ditunggu-tunggu. Bukan sekadar hari kemenangan Dharma melawan Adharma, tapi juga hari pembebasan kecil bagi anak-anak desa.

Galungan adalah hari ketika celengan dipecahkan—“ngempug” kata biasa disebut—dan koin demi koin itu menjadi tiket menuju kebahagiaan sederhana: membeli baju baru, sandal baru, atau sekadar es lilin di warung depan pura.

Sisanya? Untuk mapelesiran di hari manis Galungan, dari satu objek ke objek lain, dari pagi sampai malam, bersama keluarga, teman, dan tawa.

Masih dalam ingatan, di sudut-sudut desa, di wantilan, ramai dengan permainan dongkang lindung, puter-puteran, bola adil, dan suara tawa anak-anak yang memecah udara sore.

See also  Tebe, Gerakan dan Nyinyir?

Sementara itu, di lapangan-lapangan terbuka, para dewasa menyalakan gairah mereka sendiri: tajen terang—adu ayam yang bahkan diizinkan pada hari itu.

Dunia terasa begitu hidup, penuh warna, penuh getar yang khas: suci dan profan berjalan berdampingan, tanpa merasa bersalah.

Kini, Galungan seperti kehilangan sebagian pesonanya. Ngempug celengan tak lagi perlu; setiap hari bisa ke ATM, gesek kartu, dapat uang. Beli baju baru? Tak perlu menunggu Galungan, cukup checkout di marketplace. Mapelesiran? Tak lagi istimewa, karena setiap akhir pekan pun orang bisa berlibur ke mana saja.

Bahkan, libur Galungan kini terasa singkat—di luar Bali, tak ada libur sama sekali, sekolah tetap berjalan seperti biasa.

Masihkah Galungan menjadi rainan jagat yang mengguncang jiwa, yang membuat setiap rumah berbenah dan setiap hati bergetar oleh makna suci kemenangan Dharma?

See also  Ramai Suwung (ada) Cinta Tak Sampai

Ataukah Galungan sekadar menjadi rutinitas keagamaan, daftar upacara yang harus diselesaikan di tengah kesibukan dunia modern?

Jika Galungan mulai terasa biasa, bagaimana dengan rainan lainnya? Saraswati, Siwaratri, Purnama Tilem—semuanya tampak surut di balik cahaya redup Galungan yang tak lagi menyilaukan.

Dunia modern memang memberi kemudahan, tapi juga mencuri rasa haru dan kerinduan akan makna.

Dan kini, kesibukan telah dimulai. Kamis Wage, 13 November, sebagian umat melaksanakan Sugian Jawa; Jumat, Sugian Bali; Selasa, 18 November, Penampahan Galungan; Rabu, 19 November, puncak hari raya; dan Kamis, 20 November, Manis Galungan.

Begitu panjang rentang hari suci ini, seolah memberi kesempatan bagi kita untuk menemukan kembali yang hilang—rasa syukur, rasa kemenangan, rasa kebersamaan yang dulu menyala.

See also  Indonesia Bebas Korupsi, Belajar dari Negara Inggris dan Denmark

Barangkali dunia modern memang paradoks: di tengah kelimpahan, kita justru kehilangan makna; di tengah kemudahan, kita kehilangan rasa.

Maka, mungkin Galungan hari ini bukan sekadar perayaan kemenangan, tapi juga panggilan lembut agar kita menaklukkan musuh paling halus: kealpaan dalam diri sendiri.

Sebab sejatinya, Galungan tak pernah pergi. Yang pergi hanyalah cara kita memaknainya.

Denpasar, 11 Nopember 2025

(Visited 4 times, 1 visits today)