MANGUPURA, Fajarbadung.com – Teguran Presiden RI, Prabowo Subianto dalam Rakornas Forkopinda seluruh Indonesia menurut, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung, Puspa Negara, sebagai momentum segera berbenah.
Dirinya mengatakan, Presiden tegur berarti sayang Bali, fham Bali masih bermasalah dengan sampah dan mari jengah jaga kebersihan dengan aksi nyata berkelanjutan.
“Persoalan sampah di Bali mendadak mengguncang dunia, setelah Presiden Prabowo menegur kepala daerah. Jadikan teguran tersebit, sebagai momentum untuk segera berbenah, jengah, fokus dan konsisten mengelola sampah di Bali”, sebutnya, Rabu,(4/2/2026) di Badung.
Dirinya menyampaikan, Situasi paradox dinobatkanya Bali sebagai World best destination 2026, dan adanya statement dari Fodors sebuah biro perjalanan USA, bahwa Bali tidak layak dikunjungi 2025 karena masalah sampah, macet, prilaku buruk beberapa wisman, tingginya aksi kriminalitas.
Paradoksial yang lainya bahwa tingginya eskalasi nitizen di medsos yang menayangkan Bali sepi turis, tapi faktanya jumlah kunjungan Wisman naik 11% dari 6,3 jt tahun 2024 menjadi 7,05jt tahun 2025.
“Hal ini menunjukkan ada yang perlu diperbaiki segera dalam mengelola Bali”, jelasnya.
Dirinya menyebut, sampah masih merupakan persoalan yang belum terselesaikan sampai saat ini, baik di darat maupun di pantai.
Sampah darat masih menumpuk dimana-mana dan belum menunjukkan adanya sistem yang clean dan clear.
Sementara sampah pantai datang setiap tahun di musim angin barat atau west monson dimana sampah beratus-ratus ton menyerbu pesisir yang menghadap ke arah barat, Badung dengan panjang garis pantai kurang lebih 82 km, yang sebagian menghadap arah barat, mulai dari pantai labuan sait pecatu, pantai jimbaran, Kedonganan, pantai Kelan, pantai Tuban, pantai Kuta, Legian, Seminyak, batu belig, Petitenget, berawa, Batu bolong, canggu, cemagi, munggu , pereranan hingga pantai seseh dipastikan tiap tahun menerima sampah kiriman dlm jumlah yang fantastis dengan komposisi camouran kayu gelondongan, ranting dan varian sampah plastik.
Dirinya menyampaikan, Jaman dahulu dibawah tahun 1980an turis masih blum sebanyak sekarang, sampah pantai/pesisir sangat berguna bagi masyarakat untuk kayu bakar, dan aktifitas lainya seperti untuk bahan bakar pembuatan bata, pamor dan sejenisnya., demikian halnya sampah ranting menepi kepinggir sekaligus menjadi lemekan/pupuk untuk tanaman pantai seperti katang katang, padang gulung, pandan, ketapang, camplung, waru dan sejenisnya Namun kini di era tahun 1990an masyarakat tidak lagi memanfaatkan sampah pesisir tersebit karena idak lagi menggunakan kayu bakar, disamping jenis sampah semakin pekat dengan campuran plastik dan sejenisnya yang sulit untuk dipilah, akibatnya pantai terlihat kotor karena sampah dimusim angin barat menepi dalam jumlah banyak dan didominasi sampah plastik.
Berbagai upaya keras sejatinya telah dilakukan oleh pememerintah daerah dan masyarakat, meskipun blum.optimal karena kita berhadapan dg alam/sampah kiriman yg jumlahnya luarbiasa.
“Sejauh ini Pemda Badung melalui DLHK sudah bekerja keras dengan menyiapkan tenaga kebersihan standby dipantai setiap pagi, demikian halnya peralatan seperti Loader, Barber rake, Trucktor, truk sampah hingga tim khusus yang didukung oleh masyarakat, para pedagang pantai, Pengelola pantai, balawista, para pelaku usaha, dan stakeholders, mereka bahu membahu membersihkan sampah kiriman ini, tetapi volume yang begitu besar dan datang terus menerus setiap saat di bulan desember, januari, dan february seiring tiupan angin barat, pagi dibersihkan siang dia muncul, siang dibersihkan sore dia menepi dan seterusnya”, bebernya.
Dirinya menegaskan, Saat musim west monson ini sampah pesisir bisa ditanggulangi dengan teknologi (penjaringan sampah floating di tengah laut), tambahan infrastruktur seperti alat pemisah sampah dg pasir, pengangkutan dan TPST tempat pembuangan sampah pesisir yang jumlahnya sangat fantastis, bisa mencapai 200 ton per hari di pantai Samigita saja.
“Oleh karena itu kita perlu lebih fokus dan super prioritas dalam mengelola sampah”, ucapnya.
Dirinya menegaskan, Sentilan Presiden adalah Sebagai Warning atau Peringatan agar kita selalu aware, peduli, ditengah Bali dan jajaran pememerintah yang sudah dan terus berbenah untuk kuatkan manajemen sampah dari hulu ke hilir.
Bali perlu dukungan nyata dari Pemerintah Pusat berupa System management dan pembangunan infrastruktur, mesin atau peralatan pengolahan sampah modern yang ramah lingkungan dan paripurna.
“Sampah adalah tanggungjawab semua pihak, setiap individu memproduksi sampah dan wajib ikut mengelola sampah dengan bijak, dan turun tangan menjaga kebersihan lingkungan kita”, paparnya.
Dirinya mengatakan, Statemen Presiden Prabowo dalam Rakornas Porkompinda seluruh Indonesia tentang Pantai yang kotor di Bali harus dimaknai positif, bahwa Pemerintah Darerah, Gubenur dan Bupati Walikota se-Bali harus lebih fokus, konsisten, dan bersungguh-sungguh membuat manajemen pengolahan sampah dari hulu ke hilir, jadikan pengelolaan sampah sebagai Program super prioritas berkelanjutan.
Libatkan partisipasi aktif masyarakat, perkuat Prilaku masyarakat dalam mengellola sampah terutama menyangkut program penguatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap masyarakat.
“Tiada kata menyerah untuk sampah, dan jadikan teguran Bapak Presiden untuk lebih serius menjaga alam lingkungan Bali.Padahal Pemprov Bali sudah punya Modal untuk menjaga Lingkungan dan budaya dari Pungutan wisatawan asing sebesar rp 150.000 per orang, harus bisa diarahkan segera untuk pengelolaan sampah”, terangnya.
Ia menambahkan, Disisi lain sebagai masyarakat, dan aksi nyata, saya tetap konsisten menggerakkan dan memotivasi aksi bersih-bersih pantai tanpa instruksi dari manapun, hanya panggilan hati, rutin setiap hari jumat pagi di pantai Legian bersama komunitas Bumi kita nuswantara, pengelola pantai, pedagang pantai, masyarakat dan seluruh pelaku usaha pariwisata di Legian, sudah berjalan 5 tahun dan tidak pernah berhenti, hanya sebagai langkah kecil untuk menciptakan habit atau kebiasaan, mengedukasi dan menggerakan potensi yang ada untuk turut menjaga destinasi pantai Legian tetap bersih, sehat, asri dan mempesona.
“Oleh karena itu mari kita aware dan lakulan langkah sekecil apapun untuk menjaga kebersihan lingkungan, sekaligus jadikan teguran Pak Presiden sebagai momentum untuk berbenah, wujudkan Bali Bersih & Mempesona”, tutup Puspa.


















