Menjemput Lulusan SD Tidak Masuk SMP di Karangasem Berbekal Hypnoparenting

0
35

Oleh: I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya

Kepedulian anggota DPRD Kabupaten Karangasem Provinsi Bali bersama Dinas Pendidikan setempat untuk menjemput lulusan Sekolah Dasar (SD) tahun 2026 yang belum melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama patut diapresiasi. Langkah tersebut menunjukkan bahwa negara hadir ketika anak berisiko kehilangan hak atas pendidikan. Namun, persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan memastikan anak masuk sekolah. Kita juga perlu memahami mengapa sebagian anak memilih tidak melanjutkan pendidikan.

Karangasem menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Kabupaten di ujung timur pulau dewata ini masih tercatat sebagai daerah dengan persentase kemiskinan tertinggi di Bali. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mencatat angka kemiskinan Karangasem mencapai 6,40 persen pada 2024. Angka itu jauh di atas rata-rata Bali yang mencapai 3,80 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di Karangasem tidak bisa dilepaskan dari persoalan ekonomi keluarga.

Di banyak keluarga, keterbatasan ekonomi mendorong orang tua mencari penghidupan di luar daerah. Mereka bekerja di Denpasar, Badung, Gianyar, bahkan hingga ke luar negeri. Urbanisasi menjadi strategi keluarga untuk bertahan hidup. Namun, pilihan tersebut memiliki konsekuensi psikologis bagi anak. Ketika orang tua pergi mencari nafkah, anak bisa kehilangan kehadiran figur pengasuhan yang konsisten.

Anak kemudian tumbuh bersama kakek-nenek, kerabat, atau hanya dengan salah satu orang tua. Kebutuhan ekonomi mungkin terpenuhi sebagian, tetapi kebutuhan emosional belum tentu mendapatkan perhatian yang sama. Dalam situasi seperti ini, penolakan anak terhadap sekolah tidak boleh langsung dianggap sebagai kemalasan. Bisa jadi, anak sedang menghadapi kecemasan, kesepian, kehilangan motivasi, atau kebingungan tentang masa depannya.

Data terbaru dikutif juga memperlihatkan persoalan pendidikan Karangasem membutuhkan perhatian serius. Pada tahun ajaran 2026/2027, Disdikpora mendata 42 lulusan SD belum tercatat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Dari 7.021 lulusan SD, angka tersebut memang relatif kecil, tetapi setiap anak yang tercecer tetap berarti satu masa depan yang harus diselamatkan.

Karena itu, upaya menjemput anak ke sekolah yang akan dilaksanakan bersama wakil rakyat di DPRD perlu dilakukan dengan pendekatan yang manusiawi. Pemerintah perlu datang bukan hanya membawa formulir pendaftaran. Pemerintah perlu datang membawa telinga untuk mendengar dan hati untuk memahami.

See also  Macet Dipelihara, Solusi Mana?

Sebagai praktisi hipnoterapis klinis dan pemerhati kesehatan mental remaja, saya melihat pendekatan hypnoparenting layak diperkuat dalam pengasuhan anak dan remaja di Karangasem. Hypnoparenting bukan hipnosis panggung. Pendekatan ini lebih tepat dipahami sebagai seni komunikasi positif yang memanfaatkan suasana rileks, kedekatan emosional, dan afirmasi untuk membantu anak menerima pesan yang membangun.

Kekuatan hypnoparenting sebenarnya bukan terletak pada kata ‘hipnosis’. Kekuatan utamanya terletak pada bagaimana orang tua dan orang di sekitar (perwakilan Disdikpora dan DPRD) mengubah cara berkomunikasi. Anak yang setiap hari mendengar kalimat ‘Kamu pasti bisa’ akan membangun keyakinan berbeda dari anak yang terus mendengar ‘Kamu memang malas’. Kata-kata orang tua dapat menjadi sumber kekuatan, tetapi juga dapat menjadi luka yang menetap.

Dalam konteks Karangasem, pendekatan ini semakin penting karena banyak keluarga menghadapi jarak fisik antara orang tua dan anak. Ketika ayah atau ibu bekerja di luar daerah, komunikasi menjadi jembatan utama yang menjaga hubungan emosional. Telepon dan video call tidak boleh hanya membahas uang, sekolah, atau kebutuhan rumah. Orang tua juga perlu bertanya, ‘Apa yang membuat kamu takut?’, ‘Apa yang kamu pikirkan tentang sekolah?’, dan ‘Apa yang bisa kami bantu?’

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka pintu yang selama ini tertutup. Anak mungkin akhirnya mengungkapkan bahwa ia takut tidak punya teman. Ia mungkin takut menjadi korban perundungan. Ia mungkin merasa tidak mampu mengikuti pelajaran. Bahkan, ia mungkin merasa tidak memiliki alasan untuk sekolah karena melihat orang-orang di sekitarnya dapat bekerja tanpa pendidikan tinggi.

Di sinilah hypnoparenting perlu dipadukan dengan literasi kesehatan mental. Orang yang dituakan/ orang tua termasuk anggota dewan dan petugas dari Disdikpora Karangasem perlu mengenali perubahan perilaku anak. Anak yang menarik diri, mudah marah, kehilangan minat, sering mengeluh sakit tanpa sebab medis yang jelas, atau menolak sekolah berulang kali membutuhkan perhatian. Mereka tidak selalu membutuhkan ceramah. Mereka membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

See also  Tebe, Gerakan dan Nyinyir?

Pada masa transisi SD menuju SMP, anak memasuki remaja awal. Perubahan tubuh, emosi, lingkungan sosial, dan tuntutan akademik terjadi bersamaan. Anak yang sebelumnya menjadi siswa paling senior di SD tiba-tiba menjadi siswa paling junior di SMP. Perubahan tersebut dapat memunculkan kecemasan dan menurunkan kepercayaan diri.

Karena itu, orang tua perlu membangun gambaran positif tentang sekolah. Jangan mengatakan, ‘Kalau tidak sekolah, kamu akan jadi apa?’ Kalimat tersebut hanya memperbesar rasa takut. Lebih baik mengatakan, ‘Kamu akan bertemu pengalaman baru. Kami percaya kamu mampu melewatinya. Kalau ada masalah, kamu tidak sendirian.’ Bahasa seperti ini memperkuat rasa aman dan efikasi diri anak.

Namun, hypnoparenting tidak boleh menjadi teknik untuk memaksa anak patuh. Tujuan akhirnya bukan membuat anak menurut saja, tetapi membantu anak memiliki kemampuan mengatur diri. Pada remaja, pendekatan harus bergeser dari komunikasi satu arah menuju dialog. Orang tua perlu melakukan deep talk, mendengarkan lebih banyak, dan memberikan ruang bagi anak untuk mengambil keputusan.

Karena itu, program penjemputan anak yang tidak melanjutkan sekolah sebaiknya tidak berhenti pada kunjungan administratif. Setiap keluarga perlu mendapatkan pemetaan sederhana. Apakah masalahnya ekonomi? Apakah anak mengalami kecemasan? Apakah orang tua bekerja di luar daerah? Apakah anak tinggal bersama kerabat? Apakah ada konflik keluarga? Apakah anak pernah mengalami perundungan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan intervensi. Anak yang terkendala biaya membutuhkan dukungan ekonomi. Anak yang gagal memahami sistem pendaftaran membutuhkan pendampingan administratif. Anak yang mengalami kecemasan membutuhkan konseling. Sementara anak yang kehilangan kedekatan dengan orang tua membutuhkan penguatan relasi keluarga.

Karangasem sebenarnya memiliki momentum untuk membangun model pendidikan yang lebih komprehensif. Program wajib belajar tidak cukup hanya memastikan anak terdaftar di sekolah. Pemerintah perlu memastikan anak merasa aman untuk belajar dan memiliki keluarga yang mampu mendukung kesehatan mentalnya. Upaya pendidikan harus berjalan bersama dengan penguatan pengasuhan.

See also  Menghindari Kemacetan saat Upacara IBTK di Besakih; belajar dari Liburan Kintamani

Saya percaya, hypnoparenting dapat menjadi salah satu pendekatan yang diperkuat dalam agenda tersebut. Bukan sebagai pengganti konseling atau layanan psikologis, melainkan sebagai keterampilan komunikasi keluarga. Orang yang dituakan di lingkungannya perlu memilih kata yang membangun, mendengarkan tanpa menghakimi, memberi afirmasi, dan hadir secara emosional.

Pada akhirnya, menjemput anak yang tidak melanjutkan sekolah bukan sekadar mengantar mereka kembali ke ruang kelas. Kita sedang menjemput harapan yang mungkin mulai hilang. Kita sedang meyakinkan mereka bahwa kemiskinan keluarga tidak boleh menentukan batas masa depan.

Karangasem membutuhkan kebijakan pendidikan yang mampu melihat anak secara utuh. Anak bukan sekadar angka dalam data pendidikan. Mereka adalah manusia yang memiliki rasa takut, kebutuhan akan kasih sayang, dan impian tentang masa depan.

Maka, ketika pemerintah mengetuk pintu rumah mereka, jangan hanya bertanya, ‘Mengapa kamu tidak sekolah?’ Mari bertanya lebih dalam, ‘Apa yang sedang kamu rasakan?’ Dari pertanyaan itulah proses penyelamatan masa depan bisa dimulai. Dan dari keluarga dan lingkungan sekitar yang mampu berkomunikasi dengan penuh kasih, sekolah dapat kembali menjadi tempat tumbuh, bukan tempat yang harus ditakuti.

Penulis adalah Asesor Kompetensi Hipnoterapi BNSP RI, Dewan Pengawas LSK Hipnoterapi Indonesia mitra Kemendikdasmen, dan Pemerhati Kesehatan Mental di Sekolah, berasal dari Karangasem

(Visited 4 times, 4 visits today)