Atambua, Fajarbadung.com – 150 Penari Likurai asal Kabupaten Belu wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL akan mewakili Provinsi NTT untuk tampil di Istana Negara pada HUT RI ke-74 mendatang.
Hal tersebut diungkapkan Wakil Bupati Belu, J.T. Ose Luan pada apel peringatan Hari Lahir Pancasila di Lapangan Kantor Bupati Belu, Senin (01/07/2019).
Dikatakan bahwa berbagai persiapan harus dilakukan secara maksimal untuk mengharumkan nama daerah. Menurutnya, ini adalah sebuah kesempatan yang baik bagi 150 orang penari yang diberikan kesempatan untuk tampil di Istana Negara.
“Kita harus melihat bahwa kita memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk tampil di sana (Istana Negara). Ada inovasi-inovasiyang akan muncul dalam diri mereka,” tuturnya.
Dirinya mengucapkan terima kasih kepada Panitia Pusat Penyelenggara HUT RI ke-74 karena Kabupaten Belu diberikan kesem0atan untuk menampilkan Tarian Likurai di Istana Negara pada tanggal 17 Agustus 2019 nanti.
“Kita harus bersyukur kepada panitia pusat penyelenggara HUT RI ke-74 karena bapak presiden menginginkan kita (Belu) untuk tampil di Istana Negara,” ucapnya.
Dikatakan bahwa kendati saat ini ada banyak kritikan dari berbagai kalangan terkait dengan budaya lokal, namun demi sebuah ke0entingan nasional, maka Pemerintah Kabupaten Belu harus menyatakan siap demi sebuah kepentingan yang lebih besar.
“Walau ada banyak kritikan soal budaya kita, tapi atas kepentingan nasional, maka kita harus menyatakan siap demi bangsa,” tegasnya.
Untuk diketahui, Tarian Likurai Tarian Likurai merupakan tarian tradisional sejenis tarian perang yang khas dari daerah kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tarian ini awalnya merupakan tarian yang sering ditampilkan untuk menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang. Konon pada zaman dahulu di daerah Belu terdapat tradisi memenggal kepala musuh. Sehingga ketika mereka pulang dari medan perang selalu membawa kepala musuh yang dikalahkannya sebagai simbol keperkasaannya.
Tarian ini biasanya dilakukan oleh beberapa penari pria dengan menggunakan pedang dan penari wanita dengan menggunakan Tihar atau kendang kecil sebagai atribut menarinya. Tarian Likurai ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di daerah Belu, Nusa Tenggara Timur, dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu penting, upacara adat, pertunjukan seni dan festival budaya. Dalam perkembangannya Tarian Likurai masih dipertahankan oleh masyarakat Belu dan sering ditampilkan untuk upacara adat, penyambutan tamu penting, bahkan pertunjukan seni dan budaya.
Tarian ini dilakukan sebagai wujud penghormatan masyarakat dalam menyambut kedatangan tamu tersebut. Selain itu tarian ini juga menggambarkan ungkapan rasa syukur dan gembira masyarakat dalam menyambut tamu yang datang ke daerah kabupaten Belu. (Ronny)


















