
MANGUPURA, Fajarbadung.com – Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan mewarnai Ibadah Kreatif Sektor Pelayanan Jerikho GPIB Maranatha Denpasar yang digelar di Pondok Jaka Sangeh, Abiansemal, Selasa (25/8/2026). Tidak sekedar menjadi ruang untuk beribadah, kegiatan tersebut juga menjadi momentum mempererat tali persaudaraan antar jemaat.
Mengangkat tema “Persekutuan yang Rukun dan Damai Sejahtera” yang berlandaskan Mazmur 133, jemaat diajak kembali menyadari pentingnya hidup dalam kasih, saling menopang, mengampuni, serta menjaga keharmonisan sebagai satu keluarga besar dalam persekutuan.
Ibadah dipimpin Pelayan Firman (PF) Pdt. Sonya A. Medyarto-Sitaniapessy, sedangkan Pelayan Liturgi (PL) Pnt. Felix Diaz, Pelayan Persembahan (P4) Dkn. Kalvin W Lay.
Sejak awal kegiatan, suasana berlangsung hangat. Jemaat tidak hanya mengikuti rangkaian ibadah secara khidmat, tetapi juga terlibat dalam berbagai interaksi yang mencairkan suasana. Juga terdapat nyanyian anak, nyanyian kaum bapak, nyanyian muda-mudi, dan persembahan nyanyian olah kaum ibu. Sementara itu, dalam refleksi diri, jemaat diajak melihat kembali kehidupan sehari-hari. Kesibukan pekerjaan, urusan keluarga, maupun berbagai persoalan terkadang membuat hubungan antar sesama menjadi renggang.
Bahkan, tidak jarang seseorang hadir dalam ibadah secara fisik, tetapi hatinya masih menyimpan kekecewaan atau luka.
Pesan tersebut kemudian diperdalam melalui pembacaan Mazmur 133 secara silih berganti antara pelayan liturgi dan jemaat. Pesannya sederhana namun kuat, bahwa hidup rukun dan damai merupakan sesuatu yang indah serta mendatangkan berkat.
Suasana semakin cair ketika Pdt. Sonya mengajak pasangan suami istri beserta anak-anak berinteraksi dengan para penatua jemaat. Pertanyaan dan celetukan spontan yang disampaikan dalam suasana santai sontak mengundang gelak tawa jemaat. Tawa yang pecah bukan sekadar hiburan di tengah ibadah.
“Interaksi tersebut justru menjadi simbol sederhana tentang kasih, kedekatan, dan pentingnya membangun hubungan yang hangat di antara sesama jemaat,” beber Ibu Pendeta.
Melalui suasana akrab itu, jemaat diingatkan bahwa hubungan yang baik dengan sesama tidak dapat dipisahkan dari hubungan yang baik dengan Tuhan.
Persekutuan bukan hanya tentang duduk bersama dalam satu ruang ibadah, melainkan bagaimana kasih diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam amanat pengutusan, Pdt. Sonya juga mengingatkan makna nama Jerikho. Kota Jerikho dikenal dalam perjalanan umat Tuhan menuju Tanah Perjanjian.
Di hadapan umat ketika itu berdiri tembok yang kokoh. Namun, melalui ketaatan dan penyertaan Tuhan, tembok tersebut akhirnya runtuh.
Pesan itu kemudian dikaitkan dengan kehidupan keluarga besar Sektor Jerikho. Dalam kehidupan bersama, selalu ada “tembok” yang mungkin muncul. Kesibukan, perbedaan pendapat, persoalan, hingga luka hati dapat menjadi penghalang dalam membangun persekutuan.
Namun, ketika jemaat memilih untuk berjalan bersama dalam kasih Tuhan, tidak ada tembok yang terlalu tinggi untuk diruntuhkan.
“Jangan berjalan sendiri. Tetaplah bersatu, saling menopang, saling mengampuni, dan hidup dalam kasih,” menjadi pesan yang menguatkan jemaat dalam menghayati persekutuan.
Ibadah kreatif tersebut pun ditutup dengan semangat untuk membawa pulang bukan hanya kenangan dari kebersamaan di Pondok Jaka Sangeh, tetapi juga komitmen untuk menjadikan Sektor Jerikho sebagai keluarga yang semakin rukun, damai, dan mampu menjadi berkat bagi lingkungan sekitar.
“Sebab, ketika berjalan bersama Tuhan, tembok dapat menjadi jalan, perbedaan dapat berubah menjadi kekuatan, dan persekutuan dapat menjadi kesaksian nyata tentang kasih Kristus,” tutup Ibu Pendeta.
Suasana Ibadah Kreatif Sektor Pelayanan Jerikho GPIB Maranatha Denpasar di Pondok Jaka Sangeh, Abiansemal, berubah menjadi makin pecah dan meriah saat deretan lomba antardasawisma dimulai, dengan kompetisi tarik tambang, sepak bola, tebak lagu dan lain sebagainya. Sorak-sorai penonton, celetukan jenaka, dan urat-urat tegangan di arena seketika melebur dalam gelak tawa bersama, membuktikan bahwa “tembok” perbedaan tak lagi punya tempat di tengah persekutuan. (Red/dre)
















