
PECATU, Fajarbadung.com – Pembongkaran paksa pulahan vila dan resto oleh Pemkab Badung di Pantai Bingin, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, dinilai tak hanya berpotensi menambah angka pengangguran, tetapi juga dapat mencoreng citra Bali di mata dunia internasional
Hal tersebut disampaikan oleh Manajer Morabito Art clif, Komang Agus, saat ditemui wartawan dilokasi pembongkaran pada Senin, 21/7/2025.
Menurutnya, tindakan yang dilakukan pemerintah berdampak besar terhadap kelangsungan hidup banyak orang dan menunjukkan kurangnya perhatian terhadap nasib rakyat
“Wih, berdampak. Pertama, anak-anak harus menghidupi keluarga, menanggung anak-anak sekolah, bayar hutang. Bayar BPJS, kesehatan. Apa yang harus dilakukan? Pemerintahan nggak memberikan lapangan pekerjaan. Hanya main bongkar-bongkar seperti ini”, keluh Komang sembari menggenggam erat bongkahan tembok bekas bongkaran, seolah tak rela melepas sisa harapan yang tercerabut paksa.
Aksi pembongkaran tersebut dipimpin langsung Gubernur Bali, Wayan Koster, bersama Bupati Badung, Adi Arnawa, pada Senin, 21/7/2025
Komang Agus juga mempertanyakan terkait pembongkaran yang baru dilakukan. Selain itu iya menilai pihak pemerintah tidak memperhatikan sejarah panjang dibalik lahirnya tempat ini.
“Berdiri bingin ini sudah dari tahun 1963. Dari awal merintis tempat ini, Pak, orang lokal sini mendirikan sebuah gubuk kecil, menjual sebuah minuman, soft drink, air kelapa, gitu. Dari perjalanan waktu, step by step by step, jadilah bingin dikenal oleh dunia,” kisahnya
“Kalau emang bingin itu tidak boleh dibangun, semestinya dari tahun itu tidak ada boleh pembangunan properti. Jadi otomatis kan tidak ada membangun-membangun di sini”, tegas komang
Lebih lanjut, Komang Agus menegaskan jika pihak Morabito Art clif secara rutin membayar pajak.
“Pajak kita bayar, Pak. Sudah bayar, nggak tahu kemana itu uangnya. Sudah bayar itu. Nikmatnya apa? Siapa nggak tahu nikmat itu. Kita melengkapi semua, Pak,” kata komang
meski sempat tutup selama dua hari sesuai imbauan dari pemerintah namun, karena banyak booking-an dari tamu Eropa, Morabito Art Cliff kembali beroperasional.
“kita sudah terlanjur booking, tapi sekarang, entahlah kayak gini jadinya, kita percuma menyuarakan suara untuk pemerintah tidak mau dengerin, tidak mau melihat gimana nasib karyawan kita”, jelas Komang.
Meski jeritan histeris dari sejumlah karyawan yang tengah menyaksikan pembokaran itu, namun para petugas gabungan dan pekerja yang menghancurkan bangunan tetap melancarkan aksinya.
Pembongkaran yang dilakukan hari ini merupakan tindak lanjut dari Surat Perintah Pembongkaran yang dikeluarkan Bupati Badung dengan Nomor 600.1.15.2/14/831/SETDA/Sat.Pol.PP tertanggal 15 Juli 2025. Surat ini dikeluarkan sebagai respons atas surat dari Pemerintah Provinsi Bali. Pembongkaran dilakukan karena bangunan tersebut berdiri di atas lahan milik negara.(FB007)

















