Rider Tertua Asal Bali Berkeliling Dunia Melintasi Puluhan Negara

0
139
Ida Bagus Ngurah Wijaya.(kanan). Foto : Arnold

DENPASAR, Fajarbadung.com – Rider tertua di dunia ternyata berasal dari Bali. Dia adalah Ida Bagus Ngurah Wijaya yang kini sudah berusia 72 tahun. Dalam usia yang sangat tua tersebut, Ngurah Wijaya sudah melintasi puluhan negara di dunia. Sesungguhnya petualangan Ngurah Wijaya melakukan solo rider sudah dilakukan sejak tahun 2016 lalu. Namun saat itu praktisi pariwisata tersebut berkeliling tanah air Indonesia mulai dari Bali hingga berakhir di Malaysia. Kemudian tahun 2019, ia melintasi Malaysia, Thailand, Mongolia, India, Nepal, Kazakhstan, Burma, Pakistan, China, Kyrgyzstan, hingga Rusia. Tahun 2020 hingga 2022, Ngurah Wijaya sudah melintasi Argentina, Chili, Paraguay, Colombia, Bolivia, Peru, Ekuador, Panama, Kosta Rika, Nicaragua, Honduras, Guatemala, Mexico, Tuxcon, USA, Kanada. Perjalanan keliling dunia ini terhenti karena dunia diserang pandemi covid-19. Ngurah Wijaya akhirnya harus kembali ke Bali.

Saat obrolan singkat dengan sejumlah awak media di Sanur Bali, Jumat malam (17/11/2023), mantan Ketua Bali Tourism Board (BTB) tersebut mengisahkan, jika dirinya akan kembali melanjutkan perjalanan keliling dunia. Pada Senin (20/11/2023) besok, Ngurah Wijaya akan berangkat dari Bali menuju Kota Cape Town di Afrika Selatan, menyambung perjalanan yang terhenti sebelumnya. Kali ini dia akan start dari Cape Town Afrika Selatan, berkeliling Afrika selama beberapa hari dan melanjutkan perjalanan menuju ke Nordkapp Eropa Utara. “Senin ini akan berangkat. Sepeda motor sudah ada disana. Dari Bali saya langsung terbang ke Cape Town Afrika Selatan untuk kembali menempuh jalur darat menuju ke Eropa Utara melintasi beberapa negara dengan sepeda motor. Ini untuk melanjutkan perjalanan yang tersisa sebelumnya berkeliling dunia,” ujarnya.

See also  BRI Genap Berusia 128 Tahun, Semakin Kuat dan Hebat

Ia mengisahkan, dalam keliling dunia kali ini, Ngurah Wijaya menggunakan sepeda motor buatan Italy 660 CC Aprilia. Sebelumnya menggunakan sepeda motor 1000 CC produk Italia juga. Kali ini menempuh jalur Afrika Selatan menuju Eropa Utara. Star dari Cape Town Afrika Selatan menuju Nordkapp Eropa Utara. Kenapa harus star dari Cape Town karena wilayah ini terhenti karena pandemi covid-19. Sepeda motornya sudah diberangkatkan sejak 25 September lalu dan sudah tiba di Cape Town.

“Saya berangkat dari Bali 20 November langsung ke Cape Town. Dari Afrika Selatan menuju Eropa Utara dan terus berkeliling dunia,” ujarnya. Dalam perjalanan keliling dunia tersebut, sepeda motornya tetap bernomor plat DK. Bagian depan dipasang plang “Bali”.

Ia mengaku, saat ini dirinya menjadi rider tertua dunia. Timnya sudah mengecek ke seluruh komunitas rider dunia dan usia tertinggi itu sekitar 60-an tahun. Sementara dirinya sudah berusia 72 tahun. Perjalan dari Afrika Selatan menuju Eropa Utara kali ini penuh tantangan. Dimana dirinya akan melewati Padang gurun dengan cuaca ekstrim bisa panas, bisa dingin dan salju, melewati wilayah konflik dan perang, jalur perompak Somalia dan wilayah tak bertuan lainnya. “Kita sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan yang saya beri judul “World Tour Ngurah Wijaya Solo Ride”, dengan segala kemungkinan dan risikonya. Kita akan berkoordinasi dengan pihak otoritas setempat dimana jalur yang aman untuk rider nanti,” ujarnya.

See also  Sekda Dewa Indra Tepis Anggapan Bali Dinilai Lamban Cairkan Dana Covid-19

Saat ditanya motivasi berkeliling dunia, Ngurah Wijaya menjelaskan jika hidup ini adalah sebuah persiapan. Dirinya sudah selesai dengan urusan duniawi, mempersiapkan segala sesuatunya untuk keluarga, anak dan cucunya. Sekarang saatnya untuk mencari sesuatu yang baru, berjalan sambil bermeditasi, merenungkan kehidupan yang lebih luas, menjangkau negara yang berbeda, ada yang lebih kaya dan ada juga yang lebih miskin.

Kami melintasi sebuah negara, lebih dari 400-an kilometer tidak ada penduduk, tidak ada warung, tidak ada Pom bensin. Kondisi jalannya masih baru dibangun, dikerjakan oleh wanita semua, dengan cara menyusun batu rapat-rapat, dilindas alat berat atau truk. Ini persis di Bali tapi 50 tahun lalu. Inilah hidup. Kita harus bersyukur bahwa kita lebih baik dari mereka,” ujarnya. Ia mengaku, kalau dalam usia tua, hidup yang tersisa ini harus terus bergerak. Sebab kalau tinggal di Bali, urusannya apa lagi. Hanya makan, tidur, gendong cucu, dan sebagainya. Namun kalau terus bergerak sambil berbuat baik maka hidup ini akan lebih berarti.

Ia juga mengisahkan beberapa peristiwa unik yang ditemui selama perjalanan. Di Bolivia misalnya, ada mobil terus membuntuti sekian ratus kilometer. Ternyata mereka adalah sebuah keluarga yang terus mengikuti dirinya dan menunggu dirinya berhenti. Mereka tidak mau mencegah karena tidak ingin mengganggunya. Saat berhenti, mobil itu parkir mendekat. Sepasang keluarga turun dari mobil dan memperkenalkan diri dengan bahasan Indonesia yang terbata-bata. Ternyata mereka pernah tinggal di Indonesia di Jakarta dan juga pernah ke Bali. Di Argentina, dua kali diberhentikan oleh wartawan televisi setempat untuk diwawancarai karena melihat ada nama Bali, dengan sepeda motor dari Bali. “Pernah suatu kali mereka wawncara langsung di SPBU. Saat saya masuk SPBU, mereka langsung cegat,” ujarnya. Ia berjanji selama keliling dunia, dirinya akan terus mempromosikan Indonesia dan Bali ke seluruh negara dengan cara yang berbeda.

See also  PPKM Level 4 di Bali Diperpanjang, PPDN ke Bali Tetap Tunjukkan SWAB PCR Negatif

“Saya ingin lihat negara-negara yang selama ini saya tidak lihat, negara yang lebih maju, sambil terus mempromosikan Bali,” ujarnya.*Arnold

(Visited 1 times, 1 visits today)