Wakil Ketua DPRD Badung Wayan Suyasa Apresiasi Masyarakat dan Elemen Hadiri Puncak Karya Pelebon Putra Bungsu Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai

0
384
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Badung Wayan Suyasa. Foto : Ist

 

MANGUPURA, Fajarbadung.com – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Badung Wayan Suyasa mengapresiasi kepada semua masyarakat dan elemen-elemen yang berkesempatan hadir pada upacara Puncak Karya Pelebon I Gusti Ngurah Alit Yudha di Puri Agung Carangsari, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Jumat, 10 Pebruari 2023.

“Tentunya, kita sadari bahwa Beliau adalah I Gusti Ngurah Alit Yudha, yang almarhum sebagai salah satu keturunan dari Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai, yang hari ini di-pelebon,” terang Wayan Suyasa.

Wayan Suyasa menyebutkan antusias masyarakat dan elemen-elemen, baik Pemerintah maupun Ormas atau Organisasi Kemasyarakatan begitu besar perhatiannya kepada tokoh Puri Agung Carangsari. “Tentunya, saya selaku pribadi menyikapi sifat low profile Beliau selaku anak pejuang dan Beliau juga sudah torehkan kepada semua lapisan masyarakat, termasuk kepada Puri Carangsari,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Wayan Suyasa mengatakan, bahwa putra bungsu Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai tersebut, diakuinya sebagai tokoh besar yang sangat memberikan andil besar bagi Bali secara umumnya dan wilayah Badung pada khususnya.

Lebih lanjut Wayan Suyasa mengucapkan turut berduka cita, karena disadari bahwa secara pribadi, Wayan Suyasa sebagai bagian dari Partai Golkar mengakui Beliau, almarhum I Gusti Ngurah Alit Yudha adalah Dewan Pertimbangan Partai Golkar Provinsi Bali yang masih tercatat hingga hari ini.

See also  Kapolres Badung Kukuhkan Sekehe Gong Bhara Budaya Polres Badung

Wayan Suyasa juga menyampaikan duka cita yang mendalam. Namun, menurutnya hal itu semua sudah ada langkah yang memang harus menuju kesana, yang diiringi dengan doa bersama. “Semoga Keluarga Besar dari Beliau melaksanakan tanggung jawabnya memberikan suatu perhatian yang besar agar Beliau bisa kembali atau Amor ing Acintya, dalam artian bersatunya Atman dengan Brahman, sehingga leluhur Beliau, khususnya I Gusti Ngurah Rai yang sudah berpulang memberikan hal yang positif bagi generasi-generasi yang ada di Badung khususnya dan Bali secara umum,” pungkasnya.

Sementara itu, anak almarhum, I Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yudha yang juga Anggota DPRD Kabupaten Badung Dapil Petang mengatakan, bahwa orangtuanya, I Gusti Ngurah Alit Yudha melaksanakan upacara Puncak Karya Pelebon yang berjalan menuju setra untuk hari ini. “Beliau meninggal dunia atau seda, pada tanggal 12 Desember 2022. Jadi, dudonan acaranya, Beliau sudah nyiramin di penyajaan Galungan, terus melelet, dilanjutkan upacara ngaskara di tanggal 7 Pebruari lalu dan sekarang adalah Puncak Karya Pelebon Beliau. Itu ada 2,5 bulan, sehingga Beliau itu melampaui Galungan dan Kuningan serta dua kali Purnama, juga dua kali Tilem,” jelasnya.

Lebih lanjut, Inda Trimafo Yudha menambahkan, Puncak Karya Pelebon menggunakan bade tumpang sembilan dengan ketinggian antara 19-20 meter dan naga, sesuai tradisi dan dresta Puri Agung Carangsari. “Bade dan naganya itu, Ida Bagus dari Griya Kesiman. Kebetulan juga semasa hidupnya Ajung akrab juga dengan Puri Kesiman karena ada hubungan sejarah juga.

See also  Kabag Ops Pimpin Rapat Koordinasi Menghadapi Pra New Normal

Selain itu, bade tumpang sembilan diarak oleh masyarakat yang jumlahnya ribuan, karena kita tidak pakai roda, untuk menjaga keajegan tradisi di Puri Agung Carangsari. Jadi, bade itu memuat sampai 125 penyandang dan di Naga itu sendiri nanti muat untuk masuk 50-60 orang,” jelasnya.

Untuk jarak ke setra, Inda Trimafo Yudha menyebutkan iring-iringan menempuh jarak sekitar 800 hingga 1 kilometer, yang diadakan secara estafet sebanyak 3-4 empat kali.

“Kemarin, di tanggal 7 Pebruari saat ngaskara itu, kita juga melakukan Leladan. Kalau di masyarakat lain di Bali dibilang Meprani atau Mepeed,” paparnya

Ditambahkan, Desa Carangsari ini terdiri dari 10 Banjar dan 3 Desa Adat. Untuk menyambut pelaksanaan rangkaian upacara Karya Pelebon, pihaknya memilih Sibak Kangin Desa Adat Carangsari berjumlah 4 Banjar dengan Krama Istri berjumlah sekitar 200 orang.

“Jadi, masing-masing Krama Istri ini membikin gebogan dengan berseragam di 4 Banjar dan mereka membawa gebogannya kaatur ke Puri. Itu dilungsur lagi gebogan tersebut dan dibawa pulang ke rumah masing-masing, yang biasanya itu juga dilakukan di pura,” terangnya.

See also  Peringati Hari Disabilitas Internasional, Moeldoko Nobar Film Tegar bareng Difabel, Pejabat Publik, dan Artis

Untuk Pemuput Karya disebutkan ada dua sulinggih, yakni Ida Pedanda dari Griya Kediri Sangeh dan Ida Pedanda dari Griya Babakan. Menariknya lagi, dikatakan bade bertumpang sembilan tersebut diiringi blaganjur yang sekeha gong direkrut dari kalangan anak muda yang ada di seluruh Desa Carangsari. “Mereka biasanya di banjar-banjar ada, tapi selalu terpisah. Namun, kali ini, kita berinisiatif untuk menggabungkan mereka semua dan latihan bersama, membikin aransemen gong untuk mengantar Penglingsir. Mereka berjumlah 150 pemuda di Desa Carangsari, yang dinamakan Ardhi Merdangga, yang sebelumnya di kami itu tidak punya,” paparnya.

Kedepannya, Inda Trimafo Yudha berharap, anak-anak muda ini terus dibina sehingga Desa Carangsari mempunyai Ardhi Merdangga yang lahir, bertepatan dengan Puncak Karya Pelebon I Gusti Ngurah Alit Yudha.

Selain itu, lanjutnya, Beliau juga dilepas dengan upacara “Apel Persada” dari organisasi Pemuda Panca Marga sebagai perkumpulan atau organisasi yang memiliki benang merah sejarah adalah anak-anak Veteran. “Beliau juga putra bungsu dari Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai yang juga sudah berkiprah di politik, masyarakat dan adat secara Nasional,” pungkasnya.**Chris

(Visited 11 times, 1 visits today)