Walau Berbatasan Langsung Dengan Timor Leste, Kadis Peternakan Pastikan Babi di Belu Belum Terinfeksi Virus ASF

0
547
Walau Berbatasan Langsung Dengan Timor Leste, Kadis Peternakan Pastikan Babi di Belu Belum Terinfeksi Virus ASF/fajarbadung.com
Walau Berbatasan Langsung Dengan Timor Leste, Kadis Peternakan Pastikan Babi di Belu Belum Terinfeksi Virus ASF/fajarbadung.com

ATAMBUA, Fajarbadung.com – Akhir-akhir ini banyak hewan babi di Kabupaten Belu wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL yang sakit bahkan ada beberapa yang mati.

Sejak munculnya virus ASF di Timor Leste pada September 2019 lalu, virus ini menjadi penyakit yang sedang diisukan menjadi pemicu sakit dan kematian hewan babi di Kabupaten Belu.

Namun ternyata itu hanya sekedar isu dan belum bisa dipastikan virus tersebut sudah ada di Kabupaten Belu, wilayah yang berbatasan darat langsung dengan Timor Leste.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu,  Drs. Nikolaus Umbu K. Birri, MM saat dikonfirmasi awak media ini, Selasa (04/02/2020).

“Virus ASF ini untuk sementara belum ada indikasi sesuai sampel darah yang kita kirim. Tahap awal kita kirim sekitar 18 sampel di Balai Besar Veteriner (BBV) Denpasar dan negatif,” tandas Umbu.

See also  Optimalisasi Smart Farming dengan Korea Selatan, Moeldoko: Sejarah Baru Transformasi Pertanian Oleh Anak Muda

Lanjutnya, telah di kirim lagi 20 sampel darah di Balai Besar Veteriner Medan yang memiliki otoritas menyatakan adanya virus ASF atau tidak dan sampai sekarang belum dapat informasi dari BBV tersebut.

Sesuai fakta, gejala yang ada di lapangan, Kadis Peternakan Belu menjelaskan itu lebih mengarah ke kolera babi (hog cholera), Septicemia epizootica (SE) atau ngorok atau demam babi yang biasa serta ada juga yang cacingan. Ciri-ciri dari beberapa penyakit diatas, babi tidak bisa berdiri tapi babi itu bisa makan. Hal tersebut bisa tangani dengan obat-obatan yang ada.

“Itu karena pola makan yang tidak bagus. Apalagi disaat musim seperti saat ini, pola makan babi sedikit berbeda,” pungkasnya.

Dirinya berharap agar Kabupaten Belu tidak terinfeksi virus ASF karena apabila sampai masuk di Belu dan hanya 1 saja hewan yang terjangkit maka hanya 4 hari saja sekitar radius 1 kilo meter harus dimusnahkan.

See also  Peduli Warga Kurang Mampu, Rutan Bangli Salurkan Bantuan

“Kita harapkan agar virus itu tidak sampai ke kita karena kita ini kan daerah batas langsung dengan Timor Leste,” tutur Umbu Birri.

Untuk diketahui virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika adalah penyakit menular pada babi yang disebabkan oleh virus african swine fever. Virus ini dapat menginfeksi anggota famili Suidae, baik babi yang diternakkan maupun babi liar.

Penyakit ASF dapat menyebar dengan cepat dengan tingkat kematian yang tinggi sehingga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Demam babi afrika tidak dapat dibedakan dengan demam babi klasik hanya dengan pemeriksaan klinis atau pascamati.

Pengujian laboratorium diperlukan untuk mendiagnosis penyakit ini. Sampel darah, serum, limpa, amandel, dan kelenjar getah bening gastrohepatik dari kasus yang dicurigai harus diserahkan ke laboratorium untuk konfirmasi. Sampai saat ini belum ada vaksin yang mampu mencegah dan obat yang mampu menyembuhkan demam babi afrika. Oleh karena itu, cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah mencegah lalu lintas media pembawa virus ASF dan menerapkan biosekuriti yang baik di negara atau daerah yang belum terinfeksi.

See also  KSP: Bendungan Cipanas Rampung Agustus 2023

Tindakan yang bisa diambil seperti memastikan limbah makanan dari pesawat, kapal laut, dan kendaraan yang berasal dari negara terinfeksi ASF dikelola dengan baik dan tidak dikonsumsi oleh babi, serta mencegah pemasukan ilegal babi hidup dan produk babi dari negara negara terinfeksi ASF. (Ronny/fb).

(Visited 21 times, 1 visits today)