BALI

Antisipasi Rawan Gempa Bali, 50 Alat Intensity Meter Dipasang

DENPASAR, Fajarbadung.com – Bali merupakan salah satu provinsi yang rawan gempa dan gelombang tsunami. Kondisi alam yang rawan ini harus diterima dan dihadapi oleh masyarakat yang tinggal di batas pertemuan lempeng tektonik. Upaya strategis yang peru dilakukan adalah meningkatkan dan mengembangkan kapasitas masyarakat dan lembaga terkait mitigasi bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Bali Made Rentin mengatakan, penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam merespon informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami serta pemberdayaan masyarakat agar lebih mampu mencegah dan mengurangi risiko bencana menjadi tuntutan mutlak dan selaras dengan prinsip penanggulangan bencana yaitu merespon dengan cepat dan tepat. Untuk itu pada tahun 2019, BMKG bekerjasama dengan BPBD  memprioritaskan Bali untuk pemasangan intensitymeter di 50 titik dengan jumlah terbanyak di Kabupaten Buleleng sebanyak 12 unit. “Intensitymeter berguna untuk mengestimasi tingkat getaran akibat gempa bumi dengan cepat sehingga dapat disampaikan ke Pemda sesegera mungkin dan data hasil pengamatan dapat dijadikan salah satu parameter untuk memonitor dampak kerusakan yang disebabkan gempa bumi. Peralatan ini bukan mengukur kekuatan gempa bumi dan mengirimkan pengamatan ke BMKG melalui internet secara otomatis,” ujarnya di Denpasar, Minggu (1/12).

Pemasangan intensitymeter oleh tim BMKG  di BPBD Provinsi Bali dilaksanakan di UPTD Pengendalian Bencana BPBD Provinsi Bali pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 30 November sampai 1 Desember 2019, dan diuji coba berjalan dengan baik. Kepala UPTD Petrus Surianta mewakili Kalaksa BPBD Provinsi Bali menyambut baik, dan mengharapkan setiap BPBD Kabupaten/Kota dapat dibangun alat ini sebagai wujud sinergi BMKG dan BPBD dalam penanggulangan bencana. Alat ini sangat membantu  untuk menentukan luasan assement awal yang dilakukan oleh BPBD Provinsi maupun Kabupaten/Kota pada saat terjadinya gempa bumi.

Secara teknis alat ini mendeteksi tingkat guncangan gempa skala MMI. Dari 1 MMI hingga XII MMI. Digitizer pada intensitymeter akan muncul skala intensitas,    I-II MMI getaran tidak dirasakan atau dirasakan hanya oleh beberapa orang tetapi terekam oleh alat. akan muncul warna putih. Intensitymeter berwarna hijau atau III-V MMI getaran gempa dirasakan oleh orang banyak tetapi tidak menimbulkan kerusakan. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan jendela kaca bergetar. Kemudian, jika warna kuning muncul di alat Intensitymeter atau VI MMI, bagian non struktur bangunan mengalami kerusakan ringan, seperti retak rambut pada dinding, genteng bergeser ke bawah dan sebagian berjatuhan.

Selanjutnya, VII – VIII MMI atau muncul berwarna jingga di alat digitizer pada Intensity Meter, gempa yang terjadi menyebabkan banyak retakan terjadi pada dinding bangunan sederhana, sebagian roboh, kaca pecah. Sebagian plester dinding lepas. Hampir sebagian besar genteng bergeser ke bawah atau jatuh. Struktur bangunan mengalami kerusakan ringan sampai sedang. Jika di alat digitizer pada Intensity Meter berwarna merah atau IX-XII MMI, getaran gempa tersebut menyebabkan sebagian besar dinding bangunan permanen roboh. Struktur bangunan mengalami kerusakan berat, rel kereta api melengkung hingga bangunan hancur sama sekali.

Pemanfaatkan teknologi digital sebagai sebuah terobosan atau inovasi dalam rangka meminimalisasi resiko bencana dengan keterpaduan unsur didalamnya  menjadi sesuatu yang memberi nilai positif didalam penanggulangan bencana.(axelle dae/fb)

error: Content is protected !!