Bupati Giri Prasta Buka Wija Adnya Kite Festival IV

0
56

Tradisi Melayangan Sebagai Wujud Eling Generasi Muda Pada Sejarah

MANGUPURA, FAJAR BADUNG – Bupati Badung Nyoman Giri Prasta menyatakan layang-layang/tradisi melayangan sangat erat kaitannya dengan cerita Rare Angon. Dijelaskan bahwa Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai Rare Angon yang merupakan Dewa Layang-layang, pada musim melayangan atau setelah panen di sawah, turun ke bumi diiringi dengan tiupan seruling untuk memanggil Dewa Bayu sang penguasa angin. Pada saat itulah para petani dan anak gembala mempunyai waktu senggang yang mereka gunakan untuk bersenang-senang dengan bermain layang-layang sambil menjaga ternak yang sedang mencari makan.

“Kami memberikan apresiasi atas pelaksanaan Wija Adnya Kite Festival IV tahun 2023 yang digelar oleh STT Wija Adnya Banjar Pekandelan Legian. Ini sebagai wujud pelestarian budaya terkait dengan cerita Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai Rare Angon Ketika Beliau turun ke dunia kehidupan pertanian bisa berhasil dengan baik, wujud rasa syukur dan rasa gembira petani inilah diwujudkan dalam konsep tradisi melayangan,” demikian ujar Bupati Giri Prasta saat membuka secara resmi Wija Adnya Kite Festival IV tahun 2023 di Pantai Pemelastian, Jalan Padma Legian, Minggu (27/8). Sebagai wujud dukungan atas pelaksanaan kegiatan tersebut pada kesempatan itu Bupati Giri Prasta menyerahkan dana motivasi Kabupaten Badung sebesar Rp 30 juta dan dana motivasi pribadi sebesar Rp 20 juta kepada ketua STT Wija Adnya

See also  AKBP Roby Ikuti Video Conference dari Kapolda Bali

Turut hadir anggota DPRD Badung Gusti Anom Gumanti, Camat Kuta Dewa Ngurah Bhayudewa, Lurah Legian Ni Putu Eka Martini, Ketua LPM Legian, Bendesa Legian dan tamu undangan lainnya.

Menurutnya tradisi melayangan sebagai wujud eling generasi muda Bali akan tradisi dan sejarah yang telah diwariskan leluhur secara turun temurun. Dikatakan juga bentuk layang-layang tradisional Bali dari dulu tidak berubah seperti layang Bebean, Pecukan dan Janggan, hanya teknik pembuatanya yang berkembang. Itu karena masyarakat Bali menghormati apa yang telah diwariskan oleh leluhur secara turun-temurun.

“Layang-layang juga bisa dikaitkan dengan ideologi hidup kita, ragam warna warni layang-layang seperti pelangi di angkasa menyiratkan keindahan hidup dalam keberagaman dan kebhinekaan. Dalam proses implementasi kehidupan, kita kategorikan dalam tiga tahap, pertama seperti yang dilakukan undagi layang-layang dengan konsep merancang dan membangun, kedua kaitannya dengan kepercayaan/trust, cita-cita harus digantung setinggi langit, ketiga bagaimana kita mengawasi kokohnya layangan ini bergoyang di atas melawan kuatnya hembusan angin. Ini wujud bagaimana kita harus bisa melawan diri sendiri jangan sampai kita kebablasan, hal yang tidak baik kita lakukan. Itulah konsep hidup yang luar biasa yang bisa diambil dari tradisi melayangan ini,” jelas Giri Prasta.
Sementara itu Ketua Panitia Wija Adnya Kite Festival IV tahun 2023 Dwiky Adi Pradnyana melaporkan lomba layang-layang ini dilaksanakan dalam rangka HUT Ke-59 ST Wija Adnya untuk menyuguhkan atraksi wisata bagi wisatawan sekaligus melestarikan tradisi di wilayah kelurahan legian. “Adapun total peserta lomba layang-layang ini sebanyak 174 peserta yang terdiri dari beragam jenis layangan,” jelasnya.***rls/igo

(Visited 1 times, 1 visits today)