MANGUPURA, Fajarbadung.com – Rombongan DPRD Kabupaten Sungai Penuh Provinsi Jambi melakukan studi banding ke Bali atau tepatnya di DPRD Badung dan Pemkab Badung, Selasa (21/11/2023). Selama di Badung, rombongan yang full tim bersama instansi terkait dari Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi tersebut diterima oleh Ketua Komisi III Wayan Sandra dan sejumlah Ketua Komisi seperti Ketua Komisi IV, Made Suardana, Ketua Komisi II, I Gusti Lanang Arimbawa dan sejumlah OPD di Lingkungan Pemkab Badung antara lain perwakilan dari Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, BPBD Badung, Dinas Perhubungan Badung, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Badung, Dinas Koperasi dan UMKM Badung dan beberapa stakeholder lainnya.
Ketua Komisi III DPRD Badung Wayan Sandra mengatakan, kedatangan rombongan dari DPRD Kabupaten Sungai Penuh Provinsi Jambi ke Bali terutama ke Badung untuk belajar banyak hal. Namun yang paling menarik adalah soal pariwisata budaya dan toleransi yang ada di Bali. “Mereka ingin belajar banyak soal Bali dan Badung khususnya. Kenapa di Badung Bali, orang bisa nyaman. Sebab menurut mereka di Kabupaten Sungai Penuh, warung buka sampai jam 11 malam ribut. Orang pakai bikini sedikit ribut, demo, protes. Terutama soal pariwisata dan pantai. Bagaimana orang mau berbikini di pantai kalau semuanya ribut. Itulah yang mereka mau belajar dari Badung Bali. Kenapa Badung nyaman saja, pantainya indah, tertata,” ujarnya.
Rombongan dari DPRD Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi selama di Bali akan dipandu oleh seluruh dinas terkait di bidangnya. Dari semua yang belajar itu, ada dua hal yang sangat penting. Keduanya adalah pariwisata budaya dan toleransi. “Destinasi wisata pantai ada di seluruh Indonesia. Namun bila tidak didukung oleh pariwisata budaya dan toleransi yang tinggi maka dia akan melahirkan persoalan baru.
Itulah yang mereka belajar dari Bali,” ujarnya. Toleransi di Bali sudah menjadi barometer Indonesia dan bahkan dunia. Bali sangat welcome dengan siapa saja. Berbagai penduduk dunia ada di Bali. Orang harus dibuat senyaman mungkin selama mereka berada di Bali. Namun kenyamanan itu tetap dalam bingkai budaya Bali yang adiluhung. Makanya pariwisata Bali dikemas dalam pariwisata budaya. Karena dikemas dalam pariwisata budaya maka dia tidak akan lekang dimakan zaman.*Chris


















