Moeldoko : Indonesia Bisa Jawab Tantangan Global Jika Masyarakat Solid

0
36
Kepala Staf Kepresidenan Dr. Moeldoko memberikan sambutan pada HUT ke – 24 Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), di Jakarta, Rabu malam (28/9). Foto : Ist

JAKARTA, Fajarbadung.com – Kepala Staf Kepresidenan Dr. Moeldoko menegaskan, Indonesia sampai saat ini masih menghadapi tantangan global. Yakni, ketahanan pangan, energi, dan keuangan. Untuk menjawab tantangan tersebut, kata Moeldoko, pemerintah telah bekerja keras melakukan berbagai upaya agar masyarakat tidak mengalami krisis pangan, energi, dan resesi. Namun, lanjut dia, kerja keras pemerintah tidak akan ada artinya jika masyarakat tidak bisa menjaga soliditas.

“Kita sudah sudah membuktikan saat COVID19 kemarin. Dengan soliditas yang kuat, kita bisa melewati pandemi dengan baik dan cepat. Kondisi ini pun berlaku saat kita menghadapi tantangan global seperi sekarang. Jadi, jangan ada lagi istilah minoritas atau mayoritas. Kita adalah satu dan harus bahu-membahu untuk Indonesia maju pada dua ribu empat lima,” tegas Moeldoko, saat memberikan sambutan pada HUT ke – 24 Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), di Jakarta, Rabu malam (28/9).

See also  KSP : Pemahaman Tentang Kemiskinan Ekstrem Perlu Diluruskan

Pada kesempatan itu, Moeldoko mengingatkan, bahwa ancaman krisis pangan benar-benar nyata. Di mana saat ini ada 19 juta orang di dunia mengalami kurang gizi, dan 394 juta masyarakat global sedang kesulitan dalam sektor pangan.

Kondisi Indonesia, sambung dia, saat ini masih dalam keadaan baik, yakni ketersediaan pangan domestik masih terjaga dan kebutuhan konsumsi nasional tercukupi. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadikan pemerintah dan masyarakat lengah. Terlebih situasi dunia terus berubah sangat cepat. Seperti perubahan iklim dan cuaca serta kondisi geopolitik global.

“Perubahan iklim dan cuaca bisa membuat kondisi gagal panen. Kondisi geopolitik global akhirnya membuat negara-negara produsen pangan mengentikan ekspornya untuk mencukupi kebutuhan domestiknya. Di tambah lagi, adanya kenaikan harga energi yang membuat terjadinya konversi dari pangan ke energi karena kebutuhan kapital,” jelas Moeldoko.

See also  Babinsa dan Warga Hiasi Tonggak Perjuangan Desa Manikliu

Menghadapi kondisi tersebut, Panglima TNI 2013-2015 ini pun menandaskan, pemerintah telah melakuakan berbagai langkah untuk mengantisipasi terjadinya krisis pangan. Diantaranya, melakukan difersifikasi pangan hingga kebijakan politik anggaran untuk ektensifikasi lahan-lahan pertanian.

“Lalu apa yang bisa dilakukan masyarakat, Presiden Jokowi sudah minta, kita tanam apa saja yang bisa ditanam. Manfaatkan lahan-lahan pekarangan rumah untuk menanam cabai, sayuran, atau lainnya. Supaya tidak teriak-teriak kalau harga cabai naik,” seru Moeldoko yang kini sering disebut-disebut Panglima Tani.

Sebelum menutup sambutannya, Moeldoko berharap, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) bisa menjadi organisasi penjembatan yang bisa mendekatkan masyarakat di daerah dengan pemerintah. Terlebih, anggota PSMTI tersebar di seluruh Indonesia.**Chris

(Visited 4 times, 1 visits today)