HUKUM dan KRIMINAL

Sidang Sudikerta Berlanjut, Mengapa Diadili, Saya Tidak Tahu Siapa Yang Dirugikan

DENPASAR, Fajarbadung.com –  Sudah  diduga  oleh kuasa hukum Sudikerta putusan sela akan  ditolak oleh  hakim Esthar Oktavi,SH.MH. Esthar yang didampingi anggota Heryanti dan Koni yang memimpin jalannya persidangan perkara dugaan tindak pidana penipuan atau penggelapan yang menggunakan surat/dokumen yang diduga palsu dan atau pencucian uang, dengan terdakwa I Ketut Sudikerta, Wayan Wakil dan Agung Ngurah Agung.menolak eksepsi dari kuasa hukum ketiga terdakwa.

Kuasa hukum Sudikerta Nyoman Darmada cs dan Agus Sudjoko cs untuk terdakwa Wayan Wakil dan Agung Ngurah,sejatinya sudah menduga bahwa upaya pembelaan (eksepsi) yang dilakukan bagi klienya ditolak oleh majelis hakim.Karena berdasarkan pengalaman menangani kasus pidana jarang eksepsi diterima .Namun untuk memenuhi hukum acara kuasa hukum dan terdakwa memiliki hak untuk mengajukan keberatan atas dakwaan jaksa.

Dalam amar putusan selanya, majelis hakim sependapat dengan jaksa, bahwa apa yang menjadi dalil terdakwa sudah masuk pokok materi, sehingga jaksa perlu membuktikan dakwaannya.

Ditolaknya eksepsi para terdakwa, majelis hakim meminta  JPU,  Eddy Arta Wijaya, I Ketut Sujaya dkk., untuk membuktikan dakwaannya dengan melanjutkan pemeriksaan perkara di pengadilan pada sidang lanjutan minggu depan..

Menanggapi putusan sela,tim JPU Eddy Artha Wijaya cs, langsung menjawab akan membutikan dakwaan atas tindak pidana yang dilakukan tiga terdakwa dengan korban Alim Markus bos Maspio Group yang menelan kerugian mencapai Rp 149 miliar..

Dijelaskan JPU, bahwa untuk membuktikan dakwaan terdakwa Sudikerta, Wayan Wakil dan Ngurah Agung, jaksa mengaku akan menghadirkan total 55 saksi. “Ada 55 saksi yang siap untuk dihadirkan,” sambung Eddy Arta Wijaya.

Persidangan pekan depan, jaksa mengaku akan menghadirkan lima orang saksi. Ke lima saksi yang akan dihadirkan awal nanti ada dari Surabaya ( Hendrik K dan Wayan Santosa) dan ada dari pihak notaris. Di Bali.

Terseret ketiga terdakwa ke meja hijau ini, menurut Sudikerta bermula dari Maspion Group yang datang ke rumahnya pada 2013 silam. Kata di yang hadir saat itu adalah Presdir Maspion Group Henry Kaunang dan Wayan Santoso sebagai lawyernya.

“Jadi bukan saya yang mencari dia. Tetapi dialah yang datang mencari saya ke rumah meminta dibantu untuk berinvestsi di Bali,” ucap mantan Wakil Bupati Badung selama dua periode semasa kepemimpinan Anak Agung Gde Agung.

Sudikerta mengakui bahwa dia bukan menjabat atau sebagai apa-apa di PT. Pecatu Bangun Gemilang. Dirinya juga mengaku tidak ada soal pembagian uang. “Yang jelas, di PT. Pecatu Bangun Gemilang itu, memiliki uang sah dari hasil penjualan saham sebesar 55 persen kepada PT Marindo Investama,” tandas Sudikerta.

Lanjut Sudikerta, saat di luar sidang bahwa di PT. Pecatu Bangun Gemilang itu ada istrinya yang menjabat sebagai komisaris. Lantas, apa yang menyebabkan dirinya harus diadili?  “Nah itu dia, saya juga tidak tahu,” kelit Sudikerta. (Simon/FB).

 

error: Content is protected !!