Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya
Galungan ini saya berkesempatan pulang ke Singaraja, menjejak kota yang dahulu dikenal sebagai pusat kecerdasan Bali Utara—sebuah kota yang berada di garis terdepan pendidikan Sunda Kecil.
Tetapi betapa ironisnya perjalanan waktu: kota yang pernah menjadi kawah candradimuka generasi terdidik itu kini perlahan menjelma menjadi kota orang tua—tempat berkumpulnya para pensiunan, warga Buleleng yang pulang kampung, kembali ke tanah kelahirannya ketika usia mulai memutih.
Dulu, Singaraja seperti magnet raksasa. Bukan hanya masyarakat Buleleng yang datang menuntut ilmu di SMP seperti SMEP, atau SMA yang melegenda, tetapi juga para pelajar dari berbagai penjuru Nusantara.
Apalagi ketika IKIP Singaraja berdiri tegak sebagai mercusuar pendidikan, memanggil mereka yang ingin menjadi guru, pendidik, pembentuk masa depan.
Pendidikan yang maju itu melahirkan generasi yang sukses. Mereka terbang jauh, merantau, membangun karier di kota-kota yang lebih benderang.
Tetapi roda hidup membawa sebagian dari mereka kembali ke kampung halaman. Pensiun, pulang kampung, lalu berkumpullah mereka di kota yang sunyi namun penuh kenangan ini.
Di sinilah paradoks itu menggantung seperti penjor Galungan di tengah angin:
mereka pulang, tapi tidak pulang bersama anak-anaknya.
Anak-anak mereka telah tumbuh besar di rantau, berumah dan berkarier di kota besar. Sementara orang tuanya kembali ke Singaraja, menjadi bayang-bayang nostalgik yang berjalan sendiri.
Uang tidak kurang, rumah tidak rusak, kesehatan masih lumayan, tapi jiwa?
Jiwa mereka menggigil pelan.
Di usia yang masih energik, mungkin mereka masih bisa ngayah ke pura, mencari udara segar di taman kota, menyapa sesama warga di pasar pagi. Tetapi waktu tidak berhenti. Ketika usia merambat ke senja, langkah mereka mulai rikuh, mata mulai redup, dan keberanian untuk keluar rumah semakin mengecil.
Bagaimana dengan fasilitas pendukung? Sering kali tidak ada. Angkutan umum tak ditemukan, apalagi amgkutan khusus mengantar mereka ke tempat-tempat senang tak ditemukan sama sekali.
Mau ke rumah sakit? Tidak ada yang mengantar. Mau ngobrol yang hangat, yang penuh rasa bersama teman, teman berjauhan. Pembantu hanya membantu, bukan teman bicara. Tetangga sibuk. Anak jauh. Hari-hari menjadi panjang dan hening.
Bagaimana dengan pantai jpmpo? Untuk masyarakat k kebanyakan menilai panti jompo sebagai kumpulan orang- orang tua yang terbuang.
Bahkan di Bali sudah ada perda tentang panti jompo—sebuah visi yang bagus di atas kertas. Tapi realitasnya? Panti yang ada lebih mirip tempat penitipan usia daripada ruang hidup yang penuh interaksi.
Mereka ditampung, bukan ditemani. Diletakkan, bukan dirawat jiwanya. Padahal orang tua bukan mencari fasilitas; mereka mencari kebahagiaan sederhana: didengar, diajak ngobrol, merasakan bahwa keberadaan mereka masih berarti.
Ironinya, di Jimbaran telah ada panti yang hidup—bukan sekadar gedung—tempat komunitas tertentu berkumpul, bersosialisasi, mencipta gairah hidup baru. Di Semarang, konsep serupa bahkan telah berkembang menjadi ruang sosial usia lanjut yang hangat dan manusiawi.
Namun di Bali—di mana perdanya sudah lama disahkan—pelaksanaannya masih mengawang seperti janji yang ditunda-tunda.
Galungan mengajarkan kemenangan dharma melawan adharma, tetapi dalam dunia paradoks ini, dharma bagi lansia justru kalah oleh kelalaian sosial.
Padahal usia senja bukan waktu menunggu kematian, melainkan fase terakhir untuk merayakan kehidupan.
Singaraja, kota yang dulu ramai oleh suara anak muda, kini mengalun pelan oleh langkah-langkah renta yang mencari tempat untuk merasa hidup kembali. Dan kita bertanya pada diri sendiri: Apakah ini takdir kota tua? Stau hanya kegagalan kita menjaga martabat usia?
Di tengah wangi canang dan suara kidung Galungan, pertanyaan itu menggantung—menunggu dijawab, sebelum sunyi menjadi satu-satunya teman di rumah-rumah tua Singaraja.
Selamat merayakan Galungan 2025 sareng sami; semoga semua berbahagia.
Singaraja, 18 Nopember 2025


















