Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya
Damai bagi orang Bali adalah segala. Maka tak heran, setiap akhir pembicaraan, setiap ujung doa, setiap penutup tulisan, selalu disematkan mantra agung itu: Om santi, santi, santi om.
Om adalah aksara suci, suara purba yang tak pernah usang. Menyebutnya bukan sekadar bunyi, melainkan interaksi langsung dengan Sang Pencipta.
Pada santi pertama, dipanjatkan permohonan damai di hati, pada tubuh kita—angga sarire bhuana alit.
Pada santi kedua, dipanjatkan kedamaian untuk alam semesta—bhuana agung, agar laut tetap berombak, hutan tetap hijau, dan langit tetap teduh.
Pada santi ketiga, dimohonkan damai yang kekal, damai yang melampaui batas ruang dan waktu, agar di mana pun berada, selalu damai.
Itulah doa orang Bali setiap hari, setiap waktu. Itulah alasan mengapa manusia Bali ramah, tak hanya manusianya, alam Bali pun turut ramah menyambut setiap orang yang datang ke pulau ini.
Pohon kelapa seolah menyambut dengan riang. Daunnya melambai indah, debur ombaknya bernyanyi lirih, binatang laut pun tenang bercengkrama dengan siapa pun yang datang.
Ada aura yang sulit dijawab, kadang membuat bulu kuduk merinding: kedamaian yang hidup, sungguh-sungguh hidup, kedamaian yang bernafas.
Pernah suatu kali, ketika saya masih tinggal di Jakarta lalu pulang bersama seorang teman, kami berkeliling Bali dan tersesat jauh di sebuah desa.
Alih-alih takut sebagaimana orang tersesat, kami justru ingin semakin jauh tersesat—karena tersesat di Bali terasa seperti tersesat di surga.
Tak ada rasa cemas dibegal, tak ada rasa waswas dirampok. Yang ada hanyalah damai.
Kami melihat petani begitu akrab dengan tanah, membajak sawah ditemani puluhan burung yang riang hinggap dan bermain di bajakannya.
Hening, sepi, hanya sesekali terdengar teriakan petani menghalau sapinya.
Begitulah surga itu tampak sederhana, dan kami terus melaju, mencari sesat, mencari keindahan dan kedamaian yang tak ditemukan di tempat lain.
Karenanya, jika di tanah yang setiap hari ‘ditaburi’ doa damai ini, jika ada orang Bali yang tak memahami makna kedamaian itu, maka itulah yang menjadi paradoks.
Apalagi jika ada yang membiarkan rusuh, ada yang menukar kedamaian dengan kepentingan. Sungguh sangat ironis.
Terlebih sekarang ini, damai tak hanya sekadar keindahan, damai bagi Bali adalah nadi kehidupan, sumber ekonomi.
Damai yang mendatangkan wisatawan, damai yang membuat orang asing rela datang jauh-jauh untuk sekadar merasakan aura yang tak tertulis.
Bila kedamaian dikorbankan, bukankah berarti orang Bali sendiri tak memahami doa yang mereka panjatkan setiap hari?
Bali, sebagaimana daerah lain di negeri ini, tentu tak melarang aspirasi. Demonstrasi adalah hak. Namun, apakah tak mungkin menyampaikannya dengan cara Bali—dengan cara damai?
Mengapa harus merusak agar didengar? Mengapa harus rusuh? Apakah dengan damai tak akan ditanggapi? Lagi-lagi paradoks.
Yang dirusak itu apa? Yang dituntut siapa? Aspirasi itu sejatinya hanya kabar—selembar kertas yang berisi harapan.
Teriak-teriak, lempar batu, bakar ban—apa gunanya, jika substansinya tetap sebatas tulisan di kertas?
Bila ada yang menghendaki rusuh, maka ia bukan demonstran, melainkan perusuh. Demonstran dan perusuh, dua hal yang harus dibedakan dengan tegas.
Bali adalah doa yang dijelmakan. Bali adalah damai yang menjadi nyata. Maka jika ingin menyuarakan sesuatu di Bali, lakukanlah dengan cara Bali: damai. Sebab tanpa damai, Bali bukanlah Bali.
Om santi, santi, santi om.
Denpasar 3 September 2025


















